Biofuel Alga: Menjanjikan Namun Bisa Bikin Shell dan Chevron Putus Asa


Awal mula kemunculannya, ide untuk memanen biofuel dari alga tampak begitu menjanjikan, baik dari segi teknis maupun ekonomi. Namun kenyataannya ternyata berbanding terbalik, hingga kini belum lagi ditemukan teknologi tepat guna yang mampu memproduksi biofuel dari alga dalam skala industri.

Sedangkan kompetitor lain sesama energi alternatif seperti PLTB dan PLTS, teknologinya semakin mutakhir. Kini, penggunaan energi angin dan surya sudah mengalahkan biofuel alga dari segala sisinya.

Pemain besar industri energi seperti Shell dan Chevron telah mengangkat bendera putih setelah menyadari bahwa biofuel alga hanya akan jadi layak dalam waktu 50 tahun lagi, itu pun jika mereka mau membiayai penelitiannya secara berkesinambungan tanpa henti.

Cuma ExxonMobil saja yang masih setia untuk menjadi donatur bagi penelitian bioful alga agar para penelitinya bisa terus bekerja.

Penelitian alga sebagai sumber bahan bakar nabati mulai dikenal luas sejak tahun 1970an. Sejak saat itu berbagai upaya sudah dilakukan oleh penggiat dunia energi. Puncaknya, pada periode 2009 s/d 2017, biofuel alga menjadi primadona industri energi alternatif dimana alga di gadang-gadang jadi solusi krisis iklim dunia.

Alasannya karena alga merupakan satu-satunya sumber biofuel yang bukan dari jenis tanaman pangan. Sedangkan sumber bahan bakar nabati lainnya seperti jagung, tebu, dan kepala sawit merupakan jenis tanaman pangan yang jika dioptimalkan penggunaan sebagai biofuel ditakutkan akan mengganggu kestabilan harga bahan makanan dunia.

Artinya, biofuel alga dipercayai sebagai satu-satunya solusi cepat bagi perubahan iklim tanpa potensi menimbulkan masalah baru. Sekedar mengingatkan kembali, era 2009 s/d 2017 adalah masa-masa dimana teknologi baterai belum terbukti akan mampu setangguh baterai yang ada saat ini, sehingga PLTB dan PLTS masih diragukan keandalannya untuk memasok energi listrik ke jaringan dalam waktu 24/7 tanpa terputus sesaat pun.

Kemudian, biofuel juga punya keunggulan kompetitif dari segi keselarasannya dengan teknologi yang sudah ada. Mesin-mesin PLTD tidak perlu diganti dengan mesin baru agar bisa dioperasikan dengan bahan bakar biofuel, jika pun perlu penyesuaian maka hal tersebut cukup pada item minor pada pembangkit.

Sebab itulah mengapa Shell, Chevron, dan ExxonMobil berlomba-lomba mengembangkan teknologi biofuel alga. Tapi sayang, harapan menang besar malah tampaknya menjadi ilusi yang menjebak. Biaya produksi biofuel dari alga ternyata bisa berkali-kali lipat dari biofuel tebu atau kelapa sawit. Takut semakin merugi, Shell dan Chevron ambil langkah tegas untuk segera balik kanan maju jalan menghentikan penelitian biofuel alga mereka. Tinggal ExxonMobil yang entah mengapa masih belum mau untuk berhenti mencoba.

Lantas apa sebetulnya yang dinamakan Alga tersebut?

Ketika para ilmuan ditanyai tentang apa itu “alga” maka mereka pasti akan kesulitan untuk memberikan jawaban ringkas tanpa sedikitpun dibubuhi keterangan tambahan.

Sebab, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia saja alga didefinikan sebagai: tumbuhan berklorofil, berukuran dari beberapa mikron sampai bermeter-meter, hidupnya bergantung pada gerakan air di dalam air tawar atau air laut.

Sedang secara ilmu biologi, alga atau yang juga disebut sebagai ganggang ini merupakan kelompok organisme yang sangat bervariasi dan beragam secara genetik yang berasal dari empat kerajaan biologi, yaitu: Bakteri, Chromista, Plantae, dan Protozoa.

Penelitian terbaru tentang alga memperkirakan bahwa ada sekurang-kurangnya 30.000 hingga 1 juta spesies alga di seluruh dunia. Ukurannya pun sangat beragam, mulai dari yang paling kecil yaitu seukuran diatom mikroskopis hingga rumput laut raksasa yang panjangnya mencapai 30 meter.

Sekedar untuk mengingatkan kembali bahwa jenis alga yang paling kecil tersebut merupakan organisme laut bersel tunggal yang menghasilkan lebih dari 20% oksigen dunia.

Alga mengandung bahan penyusun semua kehidupan organik: protein, lipid, karbohidrat, dan asam nukleat yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku bioenergi.

Hingga kini, proses pembuatan biofuel dari alga hanya bisa dilakukan di laboratorium dimana setiap strain alga diuji untuk kemudian dimodifikasi secara genetik agar tumbuh lebih cepat dan lebih kaya akan kandungan lipid serta asam lemak yang tidak larut dalam air hingga menghasilkan minyak alga.

Menurut penelitian Institut Teknologi India, kandungan minyak dalam mikroalga bisa mencapai angka 77%, sehingga secara teoritis sangatlah layak sebagai kandidat bahan baku biodiesel.

Akan tetapi para peneliti kemudian agak kewalahan ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa menemukan metode pembiakan yang tepat hingga alga bisa diproduksi dalam skala industri adalah sesuatu yang rumit, memakan biaya dan waktu yang sangat panjang.

Setelah bertahun-tahun dalam riset tanpa henti, terobosan teknologi biofuel alga revolusioner yang pernah dijanjikan pun tak mampu dihadirkan oleh para ilmuan peneliti. Alhasil, mereka hanya bisa memaparkan progress penelitiannya dan membuat proposal penelitian baru dengan perubahan target jangka waktu pelaksanaan serta biaya tambahan.

Padahal tugas untuk menemukan bibit mikroalga yang sempurna tersebut hanyalah langkah awal menuju industrialisasi biofuel alga. Karena setelah itu para peneliti juga perlu menemukan cara yang tepat untuk memanen alga, menemukan pelarut kimia yang tepat ketika memecah dinding sel alga.

Kemudian barulah perusahaan donatur bisa mematenkan metode ekstraksi lipid, protein dan karbohidrat, yang menjadi bahan baku dalam langkah pemrosesan akhir dimana ketiga properti kimiawi itu diubah menjadi biofuel.

Terjawablah sudah mengapa industri biofuel alga hingga saat ini masih menjadi permainan khusus yang hanya dimainkan oleh mereka yang mampu mentolerir risiko tinggi. Perusahaan energi raksasa sekelas Shell dan Chevron saja kewalahan dan terpaksa menyerah kalah, tinggal ExxonMobil yang secara lisan masih menyatakan komitmennya pada penelitian biofuel alga.

Sementara energi terbarukan lainnya, yaitu energi surya, angin dan panas bumi, telah membuat lompatan besar selama 15 tahun terakhir dalam hal inovasi, efisiensi biaya dan penyederhanaan implementasi; biofuel alga masih merana dalam tahap penelitian dan pengembangan. Tragis memang, ternyata harapan menang besar para pengembang jadi bagaikan ilusi yang semakin terbukti.

Untuk membayangkan kapan para peneliti akan mampu menemukan bibit mikroalga yang sempurna saja masih seperti bermimpi di siang bolong, apalagi membayangkan keadaan dimana produksi biofuel alga sudah mampu bersaing dengan produksi minyak mentah dunia.

Biofuel Alga, tampak menjanjikan namun hanya bikin putus asa.

Sumber: https://news.mongabay.com/2021/07/playing-the-long-game-exxonmobil-gambles-on-algae-biofuel/

Video from pixabay.com:

Agriculture- 1098

Clouds -7001

Environment- 34119

Landfill- 36473

Microscopic- 35925

Particles- 72556

Renewable– 44370

Sea –4488

Seaweed– 4713

Waves– 45798

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terserang Penyakit Mematikan dari Asap Tungku, Memasak dengan Kayu Bakar Masih Terus Merenggut Jutaan Nyawa Manusia

Biodiesel Ganja Rami (Hemp Fuel) dan Harapan (Palsu) Baru Spesies Cannabis Sativa

Baterai Dari Plastik Daur Ulang, Solusi Bagi Masalah Sampah Dunia