PLTN Fukushima, Tohoku Earth Quake, dan “Kota Hantu”

 

Kota di Wakayama, Jepang (Taro Yamaguchi/Getty Images via Insider.com)

Setelah berlalu satu dekade sejak bencana gempa bumi, tsunami, dan melelehnya reaktor nuklir PLTN Fukushima, ternyata hanya 10% penduduk yang mau kembali untuk menempati kota tersebut.

Padahal otorita Jepang telah menghabiskan jutaan USD untuk program decontaminated and rebuild. Demikian dilansir dari Bloomberg.

Rekonstruksi kembali kota Fukushima tidak hanya dengan membangun kembali fasilitas umum seperti supermarket dan infrastruktur transportasi, akan tetapi juga dengan melakukan pembaharuan pembangkit listrik disana dan menggantinya dengan pembangkit bertenaga energi hidrogen.

Hingga saat ini hanya 1600 penduduk saja dari dua puluh satu ribu jiwa yang dievakuasi pada tahun 2011 silam yang bersedia kembali untuk mendiami Namie (pusat kota Fukushima) lagi.

Survei menunjukkan lebih dari setengah dari penduduk yang dievakuasi tersebut memang tidak berniat untuk kembali lagi kesana.

Dunia memang mengakui bahwa Pemerintah Jepang sedang memamerkan sebuah proyek restorasi termahal di dunia, dengan biaya sekitar $300 miliar.

Rumah baru serta perbaikan jalan di pantai timur laut negeri sakura itu memang jadi pemandangan yang fantastis bagi yang pernah menyaksikan kondisi tempat tersebut ketika bencana gempa bumi, tsunami, dan meledaknya reaktor PLTN berlangsung secara bersamaan pada tahun 2011 silam.

Sebenarnya bukan hanya di Fukushima, di daerah pedalaman Jepang pun ternyata memang banyak rumah kosong tak berpenghuni.

Ketika negara-negara lain menghadapi masalah kekurangan rumah, Jepang malah menghadapi masalah sebaliknya dimana terdapat banyak rumah kosong tak berpenghuni di seluruh daerah pedesaan negara ini.

Badan Perumahan dan Pertanahan Jepang, setiap lima tahun sekali melakukan survei, dimana mereka mencatat rekor tertinggi “rumah hantu” (akiya) sebanyak 8,49 juta akiya pada tahun 2018. Hal ini sudah pernah diwartakan oleh Insider.


Rumah di Pedesaan Jepang (Courtesy Chizuro Tokai via Insider.com)

Rumah-rumah kosong tersebut telah menciptakan "kampung hantu" di prefektur pedesaan Jepang dimana rumah-rumah itu tidak berpenghuni tapi tidak dapat dirobohkan.

Di beberapa daerah bahkan hampir satu dari setiap lima rumah dipastikan tak berpenghuni. Padahal Pemerintah sudah menawarkan insentif seperti jatah $500 per rumah setiap bulannya dan potongan pajak untuk menarik minat penduduk agar pindah dari pusat kota ke daerah pedesaan seperti Wakayama.

Tapi perumahan murah belum cukup untuk menjembatani kesenjangan budaya dan kesulitan birokrasi yang ditimbulkan ketika “anak-anak” kota besar pindah ke kota kecil.

Chris McMorran, seorang profesor di departemen studi Jepang di National University of Singapore (NUS), mengatakan kepada Insider bahwa generasi muda Jepang ragu untuk pindah ke pedesaan karena kesempatan kerja yang terbatas dan juga karena banyaknya akiya itu sendiri.

Fakta bahwa ada begitu banyak rumah kosong adalah pemandangan yang buruk, karena orang tidak ingin tinggal di sebuah desa terpencil yang dikelilingi oleh 'rumah hantu'.

Permasalahan sebenarnya adalah angka kelahiran di Jepang yang terus mengalami tren penurunan sejak tahun 1970-an. Artinya, sebanyak apa pun kepemilikan akan sumber daya teknologi, Jepang tetap tidak akan mampu membangun lebih lanjut lagi karena mereka kekurangan sumber daya pembangunan yang paling utama yaitu populasi manusia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terserang Penyakit Mematikan dari Asap Tungku, Memasak dengan Kayu Bakar Masih Terus Merenggut Jutaan Nyawa Manusia

Biodiesel Ganja Rami (Hemp Fuel) dan Harapan (Palsu) Baru Spesies Cannabis Sativa

Baterai Dari Plastik Daur Ulang, Solusi Bagi Masalah Sampah Dunia