Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2021

Kolonialisme, Kemiskinan, dan Energi Fosil

Embed from Getty Images   Kutub pertumbuhan ekonomi global dapat dibagi dalam dua kategori utama, yaitu: belahan Selatan dan belahan Utara. Belahan Utara merupakan daerah dimana pertumbuhan ekonomi meningkat begitu pesat sejak abad 19, sebagai hasil dari revolusi industri dan kesuksesan kolonialisme. Kolonialisme yang dimaksud disini adalah upaya politik dari negara-negara belahan Utara, yang terutama sekali dimotori oleh Portugis, Spanyol, Inggris, Prancis, dan Belanda; untuk mengintegrasikan wilayah-wilayah kaya sumber daya alam di belahan dunia bagian Selatan kedalam kekaisaran khayalan mereka. Padahal dalam kenyataannya, kolonialisme tak lebih dari sekedar pembantaian dan perbudakan umat manusia di belahan Selatan demi kelangsungan kemewahan umat manusia di belatan Utara dunia. Kalaulah di era abad ke-14 terbukti bahwa negara paling kaya ketika itu adalah Kekaisaran Mali saat dipimpin oleh Mansa Musa ,   maka Afrika di abad ke-19 hanyalah sebuah negeri tak berdaya yang di

PLTN Fukushima, Tohoku Earth Quake, dan “Kota Hantu”

Gambar
  Kota di Wakayama, Jepang (Taro Yamaguchi/Getty Images via Insider.com) Setelah berlalu satu dekade sejak bencana gempa bumi, tsunami, dan melelehnya reaktor nuklir PLTN Fukushima, ternyata hanya 10% penduduk yang mau kembali untuk menempati kota tersebut. Padahal otorita Jepang telah menghabiskan jutaan USD untuk program decontaminated and rebuild . Demikian dilansir dari Bloomberg . Rekonstruksi kembali kota Fukushima tidak hanya dengan membangun kembali fasilitas umum seperti supermarket dan infrastruktur transportasi, akan tetapi juga dengan melakukan pembaharuan pembangkit listrik disana dan menggantinya dengan pembangkit bertenaga energi hidrogen. Hingga saat ini hanya 1600 penduduk saja dari dua puluh satu ribu jiwa yang dievakuasi pada tahun 2011 silam yang bersedia kembali untuk mendiami Namie (pusat kota Fukushima) lagi. Survei menunjukkan lebih dari setengah dari penduduk yang dievakuasi tersebut memang tidak berniat untuk kembali lagi kesana. Dunia memang mengaku