Bukan Hanya Pandemi, Konsumsi Listrik Turun Drastis Juga Akibat Dari Perkembangan Teknologi

 


Permintaan konsumsi listrik rendah karena pembatasan kegiatan perkantoran selama pandemi, berdampak di beberapa negara termasuk Indonesia. Bahkan keuangan PLN diproyeksikan berpotensi kehilangan pendapatan usaha hingga sebesar Rp44 triliun pada akhir tahun 2020 lalu.

Bahkan di negara besar seperti Amerika Serikat, konsumsi listrik memang sudah tampak stagnan sejak dua dekade terakhir. Hal ini di ungkap oleh Justin Fox, dalam opininya yang diwartakan oleh Bloomberg.

Secara global memang penggunaan energi listrik dunia menurun dimana rata-rata penurunannya tercatat sebesar 5% pada tahun 2020 lalu jika dibandingkan dengan konsumsi listrik pada satu tahun sebelumnya.

Penyebab utamanya adalah tentu saja pandemi virus korona yang telah ‘sukses’ membatasi mobilitas dan aktivitas ekonomi dari miliaran penduduk bumi sejak awal tahun 2020 bahkan masih berlanjut terus hingga sekarang.

Untungnya bagi negara-negara maju seperti halnya Amerika Serikat, statistik energi merupakan topik yang lumrah dan mudah untuk diperoleh secara publik.

Setiap bulannya, Energy Information Administration (EIA) memperhitungkan proyeksi penggunaan semua jenis energi yang digunakan di AS, baik dalam bentuk sebagai energi listrik, BBM, maupun Gas Alam; dengan metode yang dapat menghilangkan penghitungan ganda, namun mampu memperhitungkan potensi kerugian energi dari proses konversi dan transmisi.



Uniknya adalah kenyataan dimana trend konsumsi energi per kapita yang terus turun secara tahun 2000. Hal ini merupakan fakta yang jarang disadari oleh kebanyakan stake holder di bidang energi.

Kemudian yang menjadi pertanyaannya adalah mengapa hal tersebut dapat terjadi? Apakah benar jika AS telah memasuki masa puncak (titik jenuh) dalam penggunaan energi? Apakah penurunan konsumsi per kapita tersebut bisa diperkirakan potensi keberlanjutannya?

Jawaban dari pernyatanyaan diatas penting untuk dijadikan acuan bagi negara-negara lain yang tidak memiliki informasi statistik energi yang cukup memadai, termasuk Indonesia. Karena, proyeksi kondisi keuangan PLN nantinya tidak akan terlalu optimistik dan cenderung lebih mendekati keadaan yang sebenarnya.

Bukankah ‘kekeliruan’ dalam memperhitungkan keuntungan PLN juga berdampak buruk pada realisasi APBN kita?

Sebelumnya EIA juga pernah melakukan kekeliruan dalam memperhitungkan pertumbuhan konsumsi energi primer AS sebagaimana yang tertuang dalam Laporan Tahunan mereka yang dirilis pada tahun 1979.

Laporan Tahunan EIA 1979 ini merupakan referensi menarik untuk dijadikan acuan dalam mencari jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan kita tersebut. Dimana 41 tahun yang lalu, EIA memperkirakan bahwa konsumsi energi primer AS akan bertambah hingga 133,6 kuadriliun BTU di tahun 2020. Angka yang ternyata 44% lebih tinggi dari kenyataan sebenarnya.

Penyebab kesenjangan antara perkiraan dan realisasi itu adalah konsumsi sektor industri yang hampir tidak meningkat sama sekali sejak tahun 1978 yaitu dari angka 23,1 kuadriliun BTU hanya naik satu poin dibelakang koma yaitu 23,2 kuadriliun BTU pada tahun 2020.

Sektor komersil yang diperkirakan naik 26% ternyata hanya naik 11%, penggunaan energi sektor perumahan yang pertumbuhannya diperkirakan stagnan malah turun 15%. Hanya konsumsi energi primer sektor transportasi yang benar-benar mengalami peningkatan.

Tampaknya peningkatan kualitas yang sangat besar pada komputer dan perkembangan teknologi semikonduktor yang super pesat berkontribusi pada peningkatan efisiensi industri di AS. Produksi barang-barang berteknologi tinggi yang tidak terlalu intensif energi kemudian menjadi primadona industri di AS.

Penurunan penggunaan energi sektor perumahan dan perlambatan penggunaan energi sektor komersial sebenarnya juga sangat berkaitan dengan efisiensi.

Kini, lingkunan rumah tangga dan area bisnis menggunakan energi per individu atau energi per pekerja yang jauh lebih sedikit karena peningkatan efisiensi peralatan. Lalu desain rumah dan gedung perkantoran dirancang dengan mempertimbangkan faktor penghematan energi, serta pencahayaan dengan bola lampu LED mampu secara sangat signifikan menghemat listrik jika dibandingkan dengan lampu pijar yang umum dipakai di era 80-an.

Demikian juga dengan teknologi kendaraan yang tidak lagi boros BBM, tentunya juga akan menurunkan konsumsi energi per kapita secara drastis.

Secara sederhanya dapat disimpulkan bahwa persoalan yang dihadapi ketika hendak memperhitungkan statistik energi kini sudah semakin kompleks; dimana faktor kemajuan teknologi (technological progress) tak dapat dipetakan dengan mudah jika hanya dengan model perhitungan konvensional.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terserang Penyakit Mematikan dari Asap Tungku, Memasak dengan Kayu Bakar Masih Terus Merenggut Jutaan Nyawa Manusia

Biodiesel Ganja Rami (Hemp Fuel) dan Harapan (Palsu) Baru Spesies Cannabis Sativa

Baterai Dari Plastik Daur Ulang, Solusi Bagi Masalah Sampah Dunia