Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

Kabelnya Sun Cable Bakal Membentang Sepanjang 4500 Kilometer Untuk Listr...

Gambar
95% kebutuhan listrik Singapura dipasok oleh Pembangkit Listrik Tenaga Gas. Sebab negara kecil di Asia Tenggara ini tidak memiliki banyak alternatif dalam strategi ketahanan energi dalam negerinya. Dengan ketersediaan lahan yang amat terbatas, maka model pembangkit listrik energi terbarukan yang lagi nge-trend saat ini seperti Tenaga Surya atau Bayu merupakan sesuatu yang mustahil dibangun di dalam negerinya sendiri. Paling-paling cuma bisa diaplikasikan pada PLTS Atap di bangunan gedung yang hasilnya pun tak seberapa. Jadilah kemudian muncul ide untuk melistriki Singapura dari luar negeri dengan cara mengalirkannya melalui kabel listrik bawah laut. Australia – ASEAN Power Link Project adalah sebuah proyek EBT yang paling ambisius di Asia-Pasifik yang mana proyek ini sudah gaung-gaungkan sejak bulan Oktober tahun 2020. Tujuannya adalah untuk melistriki Singapura dengan PLTS 10 GW di Newcastle Waters Station yang terletak di Northern Territory Australia. Kepada kantor berita ABC R

Mengenal Istilah Efek Gas Rumah Kaca

Gambar
Gas rumah kaca merupakan sekumpulan gas yang terdapat dalam lapisan atmosfer paling rendah yang menyebabkan panas matahari dapat tersimpan dalam atmosfer Bumi layaknya bangunan rumah kaca yang digunakan untuk bercocok tanam agar tanaman tumbuh maksimal mulai dari pembibitan hingga budidayanya. Karena serupaan sifat seperti inilah maka komponen kimiawi atmosfer yang berpengaruh pada proses penyekatan panas matahari disebut sebagai gas rumah kaca. Sedangkan fenomena peningkatan temperatur global ( pemanasan global ) akibat meningkatnya kandungan gas rumah kaca dalam atmosfer disebut sebagai efek gas rumah kaca. Secara alamiah, efek gas rumah kaca adalah sesuatu yang sangat bermanfaat bagi kehidupan di Bumi. Kehadiran gas rumah kaca dalam kadar normal membuat kehangatan planet Bumi terjaga pada suhu 15 derajat Celsius, kondisi yang menyokong kelangsungan rantai kehidupan organisme di seluruh tempat di dunia. Tanpa gas rumah kaca maka mustahil Bumi dapat dihuni oleh organisme apa pun,

Banjir Besar Serentak, Dari Jerman sampai ke China: Masihkah Kita Meragukan Bahaya Perubahan Iklim?

Gambar
Dalam pekan terakhir di bulan ini, bencana banjir mematikan yang telah menjungkirbalikkan kehidupan di China dan Jerman terjadi dalam selang waktu yang hampir bersamaan. Pada tanggal 17 Juli 2021, kantor berita Reuters melaporkan bahwa banjir bandang sedang menghantam bagian barat Jerman dan Belgia. Sedikitnya 157 orang meninggal atau hilang disapu arus deras yang dating secara tiba-tiba. Selang tiga hari kemudian,  Reuters kembali merilis berita tentang kepanikan penduduk kota Zhengzhou yang sedang terjebak dalam terowongan bawah tanah (subway) akibat banjir besar yang juga datang dengan tetiba tak disangka bakal jadi bencana. Roda ekonomi di kota industri yang terletak di tengah-tengah China itu terpaksa berhenti total. Kerugian finansial akibat banjir bandang ini diperkirakan mencapai 2,7 triliun rupiah. Fenomena ini telah mengingatkan kita kembali akan kebenaran bahaya perubahan iklim , dimana para ilmuan telah mewanti-wanti para pemimpin dunia akan peningkatan kejadian cua

Biofuel Alga: Menjanjikan Namun Bisa Bikin Shell dan Chevron Putus Asa

Gambar
Awal mula kemunculannya, ide untuk memanen biofuel dari alga tampak begitu menjanjikan, baik dari segi teknis maupun ekonomi. Namun kenyataannya ternyata berbanding terbalik, hingga kini belum lagi ditemukan teknologi tepat guna yang mampu memproduksi biofuel dari alga dalam skala industri. Sedangkan kompetitor lain sesama energi alternatif seperti PLTB dan PLTS, teknologinya semakin mutakhir. Kini, penggunaan energi angin dan surya sudah mengalahkan biofuel alga dari segala sisinya. Pemain besar industri energi seperti Shell dan Chevron telah mengangkat bendera putih setelah menyadari bahwa biofuel alga hanya akan jadi layak dalam waktu 50 tahun lagi, itu pun jika mereka mau membiayai penelitiannya secara berkesinambungan tanpa henti. Cuma ExxonMobil saja yang masih setia untuk menjadi donatur bagi penelitian bioful alga agar para penelitinya bisa terus bekerja. Penelitian alga sebagai sumber bahan bakar nabati mulai dikenal luas sejak tahun 1970an. Sejak saat itu berbagai upaya sudah

The Belt and Road Initiative (BRI) setelah 8 tahun diumumkan #1

Gambar
Strategi The Belt and Road Initiative (BRI) untuk pertama kalinya diumumkan oleh Presiden Xi Jinping dalam kunjungan resminya ke Indonesia dan Kazakhstan pada tahun 2013. Ketika di Kazakhstan, ia menguraikan visinya untuk memulihkan rute perdagangan darat dari China ke Asia Tengah dan Eropa — yang memang dikenal sebagai “Jalan Sutra” kuno via daratan. Sedangkan di Indonesia, Presiden Xi Jinping menostalgiakan kembali rute “jalan sutra maritim”, yaitu sebuah koridor laut di selatan China yang menghubungkan pelayaran dari Asia Timur ke Timur Tengah dan Eropa. Menurut worldhistory, kedua rute tersebut memang sudah dikenal sebagai jalur penghubung antara peradaban Timur dan Barat sejak 150 Tahun SM hingga tahun 1453 M. Dalam tujuh tahun pelaksanaannya, The Belt and Road Initiative tersebut menjadi cukup kontroversial, terutama di Barat. Kontroversi ini dipicu oleh kurangnya transparansi yang memang jadi ciri khas China dalam mengelola informasi dalam negeri mereka. Otorita China

Elektrifikasi dan Bahan Bakar Nabati (BBN): Pasangan Serasi Dekarbonisasi Transportasi

Gambar
Gambar: pemeriksaanpajak.com Kebijakan untuk melistriki atau menabatikan kendaraan ternyata ternyata tidaklah patut untuk saling dipertentangkan namun akan lebih tepat jika dikombinasikan. Dalam Platts Future Energy Podcast , Senior Price Specialist untuk pasar gula dan etanol Brazil bagi S&P Global Platts, Nicolle Monteiro de Castro, menjelaskan bahwa Brazil sendiri sebagai produsen bioethanol terbesar dunia pun masih memerlukan kendaraan listrik jika hendak meninggalkan BBM fosil secara keseluruhan dalam industri transportasinya. Adapun dari referensi yang berbeda diperoleh proporsi emisi karbon Brazil dari pemanfaatan energi berdasarkan pemanfaatan (2019) dapat dirincikan sebagai berikut: 1) Transportasi 47%, 2) Industri 27%, 3) Pembangkit Listrik 9%, 4) Bangunan 5%, 5) Pertanian 3%, dan sektor lainnya sebesar 9%. Sedangkan angka 47% juga muncul sebagai proporsi etanol dalam pasar bahan bakar ringan (light fuel demand) di Brazil, hal ini diungkap oleh Nicolle Castro dalam

Electrification and biofuels: Combination, not disruption, is the path to decarbonize transportation

Electrification and biofuels: Combination, not disruption, is the path to decarbonize transportation : Electric vehicles have been trending as the primary choice to decarbonize the transportation sector worldwide. Although some could expect the EV revolution to disrupt all current technologies, existing biofuels can keep playing a key role where they are available. In this podcast, Brazil is discussed as an example of where transitioning to EVs is not as urgent as in other countries since the wide adoption of ethanol is already yielding significant reductions in emissions at a competitive cost.

Kolonialisme, Kemiskinan, dan Energi Fosil

Embed from Getty Images   Kutub pertumbuhan ekonomi global dapat dibagi dalam dua kategori utama, yaitu: belahan Selatan dan belahan Utara. Belahan Utara merupakan daerah dimana pertumbuhan ekonomi meningkat begitu pesat sejak abad 19, sebagai hasil dari revolusi industri dan kesuksesan kolonialisme. Kolonialisme yang dimaksud disini adalah upaya politik dari negara-negara belahan Utara, yang terutama sekali dimotori oleh Portugis, Spanyol, Inggris, Prancis, dan Belanda; untuk mengintegrasikan wilayah-wilayah kaya sumber daya alam di belahan dunia bagian Selatan kedalam kekaisaran khayalan mereka. Padahal dalam kenyataannya, kolonialisme tak lebih dari sekedar pembantaian dan perbudakan umat manusia di belahan Selatan demi kelangsungan kemewahan umat manusia di belatan Utara dunia. Kalaulah di era abad ke-14 terbukti bahwa negara paling kaya ketika itu adalah Kekaisaran Mali saat dipimpin oleh Mansa Musa ,   maka Afrika di abad ke-19 hanyalah sebuah negeri tak berdaya yang di

PLTN Fukushima, Tohoku Earth Quake, dan “Kota Hantu”

Gambar
  Kota di Wakayama, Jepang (Taro Yamaguchi/Getty Images via Insider.com) Setelah berlalu satu dekade sejak bencana gempa bumi, tsunami, dan melelehnya reaktor nuklir PLTN Fukushima, ternyata hanya 10% penduduk yang mau kembali untuk menempati kota tersebut. Padahal otorita Jepang telah menghabiskan jutaan USD untuk program decontaminated and rebuild . Demikian dilansir dari Bloomberg . Rekonstruksi kembali kota Fukushima tidak hanya dengan membangun kembali fasilitas umum seperti supermarket dan infrastruktur transportasi, akan tetapi juga dengan melakukan pembaharuan pembangkit listrik disana dan menggantinya dengan pembangkit bertenaga energi hidrogen. Hingga saat ini hanya 1600 penduduk saja dari dua puluh satu ribu jiwa yang dievakuasi pada tahun 2011 silam yang bersedia kembali untuk mendiami Namie (pusat kota Fukushima) lagi. Survei menunjukkan lebih dari setengah dari penduduk yang dievakuasi tersebut memang tidak berniat untuk kembali lagi kesana. Dunia memang mengaku

Setahun Sudah Upaya Membangkitkan Kembali Bisnis Migas Nasional Dengan Cost Recovery Resurrection

Gambar
Rezim cost recovery dalam kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract/PSC) kembali menjadi opsi bagi kontraktor migas sejak awal tahun 2020. Ketika tampuk kepemimMenteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif memastikan bahwa investor migas sudah boleh memilih salah satu antara dua skema bagi hasil.pinan Kementerian ESDM dijabat oleh Ignasius Jonan, skema gross split menjadi mandatory bagi KKS migas. Namun sejak penghujung 2019 , ide untuk menghidupkan kembali skema cost recovery sudah terdengar. Dan secara resmi hal ini sudah diwartakan oleh CNBC pada Januari 2020 silam. Benarkah Pemerintah lebih untung jika kontrak migas dilaksanakan melalui skema cost recovery? Bagi yang tertarik maka silahkan mencoba sendiri simulasinya di work sheet berikut.

Sektor Ketenagakerjaan pada Bisnis Energi Terbarukan di Indonesia

Gambar
Pada tahun 2020 yang silam, Global Green Growth Institute (GGGI) menerbitkan GGGI COUNTRY REPORT yang disusun oleh BAPPENAS berkenaan dengan asesmen sektor ketenagakerjaan pada pemanfaatan EBT sebagai energi primer pembangkit listrik di Indonesia. GGGI adalah organisasi internasional berbasis perjanjian yang berkantor pusat di Seoul, Korea Selatan. Organisasi ini bertujuan untuk mempromosikan “green growth”, yaitu sebuah paradigma kesejahteraan global yang ditandai dengan keseimbangan pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan. Adapun analisis yang dilakukan oleh BAPPENAS dalam GGGI COUNTRY REPORT yang dimaksud adalah didasarkan pada dua jenis skenario besar ketenagalistrikan yang ada di Indonesia. Skenario pertama adalah Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) yang merupakan bagian dari rencana bisnis Perusahan Listrik Negara (PLN). Sedangkan skenario kedua adalah Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) yang disusun oleh Pemerintah. Skenario RUKN jelas tampak lebih

Menyajikan Data Lifting Minyak dan Gas Bumi dalam Pivot Table

Gambar
Ketika bekerja dengan data dinamis, yang jumlahnya bisa terus bertambah seiring waktu, maka menggunakan Pivot Table adalah pilihan cerdas dan praktis. Sebab, bersama Pivot Table, data tersebut bisa ditabulasikan kedalam beberapa baris katagori dan/atau sub kategori statis, bersamaan dengan nilai dinamisnya yang ditampilkan dalam sejumlah kolom sesuai dengan kebutuhan Dalam tutorial kali ini kita akan coba buat Pivot Table berdasarkan data lifting migas Provinsi Aceh sepanjang tahun 2008 – 2020. Berdasarkan Daftar Informasi Pupblik Dinas ESDM Aceh Tahun 2020 , data sinkronisasi lifting migas  Aceh merupakan bagian dari informasi publik yang tersedia setiap saat. Langkah pertamanya adalah dengan menginput data terlebih dahulu. Dan ada tiga hal yang harus diperhatikan. Pertama, setiap kolom harus diberi judul (header). Kedua, jangan ada kolom atau baris subtotal, biarkan apa adanya karena nanti excel yang akan mengerjakannya untuk kita. Ketiga, jangan ada baris atau kolom yang koson

Mengenal Kegunaan Pivot Table, Cara 'Mantul' Merangkum, Menganalisis, Menyiapkan Data Untuk Laporan

Gambar
Dalam menganalisis kondisi transisi energi maka tak ayal lagi kita harus berhadapan dengan segepok data yang jumlahnya tak terkira.  Lantas, bekerja dengan data yang jumlahnya besar tentu melelahkan. Akan tetapi jika menggunakan fasilitas Pivot Table yang tersedia dalam MS. Excel maka merangkum, menganalisis, dan menyiapkan data untuk laporan jadi begitu mudah hanya dengan beberapa klik saja. Simak videonya dan silahkan download contoh datanya dibawah ini dengan meng-klik di bagian "Pop out" :

Runut Waktu Sejarah Evolusi Energi Terbarukan: Hydropower

Gambar
  10 Besar Negara Pengguna PLTA di Dunia / sumber: comparethemarket.com.au Dari sekian banyak ulasan mengenai sejarah energi terbarukan, tulisan Matthew Keogh yang berjudul “ The History of Renewable Energy: A timeline of five common renewable energy sources ” merupakan satu diantara artikel ringkas yang paling komplit penjelasannya. Ceritanya diawali dengan penggambaran tentang bagaimana orang Yunani kuno pada era Sebelum Masehi (lebih dari 2000 tahun silam) sudah menggunakan kincir air sebagai sumber energi pemutar penggilingan gandum. Saat ini, konsep kincir air tersebut sudah berevolusi menjadi PLTA, PLTM, dan PLTMH yang dapat menghasilkan listrik dari ukuran kilo-Watt (kW) yang cukup untuk satu desa hingga ukuran ribuan Mega-Watt (MW) yang memadai untuk menerangi sebuah ibukota Negara. Selama ribuan tahun, manusia telah berusaha memanfaatkan berbagai jenis elemen bumi untuk dijadikan sebagai sumber energi. Hanya saja, perdagangan sumber energi dimasa lalu masih sangat teris

Mengeksplorasi Data Time Series Variable Makro Ekonomi Indonesia Yang Coba Dihubungkan Dengan Variable Yang Bersinggungan Dengan Isu Perubahan Iklim (Bag. 2)

Gambar
  Dalam sebuah artikel dalam Jurnal Energy Economics disebutkan bahwa Emisi CO2 memiliki dampak pada pertumbuhan ekonomi dimana setiap 1% peningkatan emisi CO2 akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 2.181%. Makalah tersebut meneliti tentang hubungan kausal dinamis antara pertumbuhan ekonomi, emisi karbon dan konsumsi energi untuk 116 negara selama periode 1990-2014. Metode yang digunakan adalah panel vector autoregression (PVAR) dan system-generalized method of moment (System-GMM). Untuk itu maka mengeksplorasi data time series pertumbuhan ekonomi dan peningkatan emisi CO2 di Indonesia menjadi menarik. Secara kasat mata, pergerakan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan emisi CO2 tampak selaras walau tidak persis sama. Apabila dilakukan pengujian dengan regresi OLS, maka diperoleh model untuk periode 1990-2014 sebagai berikut: Pertumbuhan_Ekonomi = 0.150913*Emisi + 4.25949 Menunjukkan bahwa emisi CO2 berimplikasi positif pada pertumbuhan ekonomi dimana setiap 1% peningka

Mengeksplorasi Data Time Series Variable Makro Ekonomi Indonesia Yang Coba Dihubungkan Dengan Variable Yang Bersinggungan Dengan Isu Perubahan Iklim (Bag. 1)

Gambar
  Dalam menganalisa sebuah permasalahan berdasarkan data runut waktu ( time series ) maka mau tidak mau kita harus mampu menyajikan data tersebut dalam bentuk grafik. Diantara bentuk grafik yang umumnya dipakai adalah Line Charts. Sebelumnya izinkan kami mengucapkan selamat datang bagi para pengunjung yang baru pertama kalinya menyambangi blog EnergyNotes. Adapun bagi pemirsa Channel YouTube Fahrul Rizal yang berminat untuk mendapatkan Template Dynamic Line Charts secara gratis seperti yang telah dijelaskan dalam video yang tertaut dengan tulisan ini maka terlebih dahulu harus memastikan jika video tersebut sudah meng-Click Like dan juga men-Subscribe channel yang di maksud. Setelah itu juga harus men-Subscribe blog EnergyNotes ini dan mengetik komentar pada tulisan ini yang berisi pesan seperti ini: “Template Dynamic Line Charts” atau yang semisalnya yang bermakna ingin dikirimkan file Excel nya ke alamat Email yang digunakan untuk men-Subscribe blog EnergyNotes. Dalam tul

Bagaimana Sekiranya Gurun Sahara Dipasangi Panel Surya Sebanyak-Banyaknya?

Gambar
  Searah jarum jam dari kiri atas, PLTS: Bhadla, India; Desert Sublight, AS; Hainanzhou, Cina dan Ouarzazate, Maroko / theconversation.com. Berupaya memanfaatkan sebesar-besarnya potensi tenaga surya sebagai sumber energi bersih ramah lingkungan terkesan jadi begitu ‘keren’ bagi kebanyakan penggiat kampanye perubahan iklim. Namun demikian, setiap perubahan fungsi lahan secara artifisial dipastikan akan berdampak pula pada iklim disekitarnya. Tak terkecuali jika sekiranya kita mengubah fungsi gurun sahara dengan memasang panel surya sebanyak-banyaknya disana. Seperti yang penelitian para ilmuan yang pernah dipublikasikan oleh Science pada tahun 2018 dan telah juga di kupas oleh Alona Armstrong , seorang dosen senior di Lancaster University. Dimana dikemukakan bahwa panel surya dan turbin angin imajiner tersebut akan membuat lingkungan sekitarnya jadi lebih hangat dan curah hujannya pun meningkat sehingga sebagian Sahara menjadi kembali hijau seperti keadaanya pada 4.500 tahun si

Bukan Hanya Pandemi, Konsumsi Listrik Turun Drastis Juga Akibat Dari Perkembangan Teknologi

Gambar
  Permintaan konsumsi listrik rendah karena pembatasan kegiatan perkantoran selama pandemi, berdampak di beberapa negara termasuk Indonesia. Bahkan keuangan PLN diproyeksikan berpotensi kehilangan pendapatan usaha hingga sebesar Rp44 triliun pada akhir tahun 2020 lalu. Bahkan di negara besar seperti Amerika Serikat, konsumsi listrik memang sudah tampak stagnan sejak dua dekade terakhir. Hal ini di ungkap oleh Justin Fox , dalam opininya yang diwartakan oleh Bloomberg . Secara global memang penggunaan energi listrik dunia menurun dimana rata-rata penurunannya tercatat sebesar 5% pada tahun 2020 lalu jika dibandingkan dengan konsumsi listrik pada satu tahun sebelumnya. Penyebab utamanya adalah tentu saja pandemi virus korona yang telah ‘sukses’ membatasi mobilitas dan aktivitas ekonomi dari miliaran penduduk bumi sejak awal tahun 2020 bahkan masih berlanjut terus hingga sekarang. Untungnya bagi negara-negara maju seperti halnya Amerika Serikat, statistik energi merupakan topik