Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2020

Apa Pun Yang Kita Lakukan, Ternyata Pemanasan Global Hampir Tidak Bisa Lagi Dihentikan

Gambar
  Gambar: naturfreund_pics/Pixabay Andaikan saja seluruh umat manusia mampu berhenti mengeluarkan emisi gas rumah kaca pada hari ini, ternyata fenomena pemanasan global tetap akan terus berlanjut hingga beberapa abad yang akan datang yang menyebabkan permukaan laut akan naik beberapa meter. Hal tersebut diungkapkan oleh para peneliti yang terlibat dalam sebuah studi pemodelan iklim yang mencoba mengembangkan model kontroversial seperti yang diberitakan oleh The Jakarta Post pada Jum’at yang baru lampau. Senada dengan media internasional berbasis nasional tersebut ,The Daily Mail nyatanya juga mewartakan topik yang serupa dalam pekan yang sama. Namun kiranya hal ini bukanlah sesuatu yang baru apabila kita menengok kembali tulisan Jacqueline Sussman yang dipublikasikan oleh Biodiversity for a Livable Climate (B4LC), yang mana B4LC ini merupakan sebuah organisasi yang memiliki slogan: “memulihkan ekosistem untuk membalikkan proses pemanasan global”. Panel surya di atas atap rumah.

Akibat Proses Transisi Energi, Industri Batubara Indonesia Semestinya Tak Lagi Layak Untuk ‘Mati-matian’ Dipertahankan

Gambar
  Gambar: Pixabay " ...dua hal besar dari batubara yang akan membebani pemerintah di masa depan, yaitu: technology lock-in dan stranded asset " Kebijakan transisi batubara nasional harus segera terbentuk agar dampak ‘kejutan’ bagi ekonomi dan sosial di masa mendatang dapat ditekan seminimal mungkin. Ketika membicarakan energi untuk pembangkit listrik di kawasan Asia Tenggara maka topik ini sering diasosiasikan dengan batu bara meskipun potensi energi terbarukan di kawasan ini sangatlah besar. Indonesia memiliki 3,7% dari total cadangan terbukti batubara dunia, terdiri dari ±24,7 miliar ton batubara dengan kalori menengah dan ±15,2 miliar ton dari jenis kalori rendah. Selama sepuluh tahun terakhir, lebih dari 80% produksi batubara nasional ternyata diekspor ke China, India, Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan. Apalagi kalau bukan untuk memasok kebutuhan PLTU di negara-negara tersebut. Namun demikian ternyata pasar ekspor komoditi ini kini punya kerentanan yang tinggi, se