Terserang Penyakit Mematikan dari Asap Tungku, Memasak dengan Kayu Bakar Masih Terus Merenggut Jutaan Nyawa Manusia

Sumber: Flickr.com

Asap tungku kayu bakar mengandung black carbon atau karbon hitam yang dikenal sebagai zat mematikan dan sangat berbahaya bagi kesehatan jantung dan paru-paru. Selain pada asap kendaraan bermotor dan pembangkit listrik bertenaga batu bara, karbon hitam juga ditemukan pada asap tungku kayu bakar yang dipakai untuk memasak sehari-hari.

Pengguna kayu bakar untuk memasak masih tinggi di dunia. Dalam ulasan terbaru yang ditulis oleh Megan Rowling untuk Thomson Reuters Foundation, disebutkan bahwa sekitar 4 miliar jiwa penduduk dunia masih belum mendapatkan akses terhadap bahan bakar memasak yang bersih, aman, dan terjangkau.

Jika populasi penduduk dunia sekarang sebesar 8 miliar jiwa maka ada setengah dari populasi yang masih belum menggunakan bahan bakar modern dalam kehidupan kesehariannya.

Valuasi kerugian global dari buruknya kualitas bahan bakar tersebut adalah 2,4 triliun USD per tahun; ditinjau dari sisi dampak buruknya pada kesehatan, iklim, dan ekonomi lokal.

Andaikan target pemenuhan akses terhadap bahan bakar modern untuk rumah tangga tercapai pada tahun 2030, maka ibu-ibu yang dapur rumahnya masih tradisional akan terus terpapar karbon hitam setidaknya selama 10 tahun kedepan.

Parahnya lagi para ibu tersebut biasanya ikut menggendong anak bayinya ketika sedang memasak. Padahal bahaya asap dari pembakaran kayu di dapur bagi ibu dan bayi setara dengan rutin menghisap setengah bungkus rokok setiap hari.

Kaum perempuan adalah pihak yang paling dirugikan dalam hal ini, lebih dari setengah nilai kerugian kesehatan yang berakibat pada hilangnya produktivitas harus dipikul oleh kaum hawa.

Menurut WHO, penyakit yang berhubungan dengan polusi udara dalam ruangan dari tungku api dapur tradisional menyebabkan kematian mendadak bagi hampir 4 juta orang yang kebanyakannya adalah wanita dan anak-anak.

Perhitungan sebelumnya menyebutkan jumlah orang di seluruh dunia yang masih memasak dengan cara berbahaya bagi kesehatan mendekati angka 3 miliar.

Tetapi penelitian Bank Dunia mengkonfirmasikan angka yang lebih besar setelah memperhitungkan jumlah keluarga yang sudah memiliki akses ke energi yang lebih bersih seperti gas namun masih juga dalam kesehariannya menggunakan bahan bakar tradisional seperti arang.

Bank Dunia juga mencatat tiga wilayah yang penduduknya paling minim akses ke energi rumah tangga modern, yaitu: Afrika Sub-Sahara (10%), Asia Tenggara (21%) dan Asia Selatan (27%). Pendekatan baru dalam penelitian ini adalah pengukuran terhadap dampak kesehatan, kenyamanan, dan keterjangkauan; berbeda dengan penelitian terdahulu yang hanya mengukur emisi dan efisiensi kompor.

Peneliti Bank Dunia juga menemukan fakta mencengangkan lainnya yaitu penggantian kompor kayu traditional dengan kompor kayu modern ternyata tidak memberikan dampak signifikan pada perbaikan kondisi kenyamanan dan kesehatan rumah tangga.

Ketika transisi energi dunia sudah membicarakan tentang blue-hydrogen dan marine bio fuel oil ternyata masih ada sisi energi rumah tangga yang belum selesai dibenahi. Menyisakan persoalan kesehatan, lingkungan, ekonomi, dan kemanusiaan yang kadang terpaksa diabaikan sementara oleh pemerintah ataupun lembaga terkait lainnya. Karena prioritas mengejar target transisi energi di sektor industri dan transportasi telah mengaburkan urgensi energi modern untuk rumah tangga, apalagi untuk rumah tangga pedesaan yang tersebar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Biodiesel Ganja Rami (Hemp Fuel) dan Harapan (Palsu) Baru Spesies Cannabis Sativa

Baterai Dari Plastik Daur Ulang, Solusi Bagi Masalah Sampah Dunia