Simbiosis Mutualisme Kimia Hijau dan Energi Bersih

Gambar Rilsonav dari Pixabay.com

Bahan kimia memainkan peran penting dalam masyarakat modern. Jika tidak digunakan dengan benar, efeknya bisa membawa malapetaka baru yang tak sebanding dengan manfaat.

Produk-produk seperti deterjen untuk mencuci pakaian hingga pasta gigi yang membersihkan mulut adalah contoh nyata peran bahan kimia dalam kehidupan modern. integral dalam masyarakat.

Rata-rata produk bahan kimia yang umum ditemukan dipasaran adalah hasil olahan minyak mentah. Ratusan molekul hidrokarbon yang dikandung minyak bumi dipisahkan oleh pabrik petrokimia menjadi bahan baku plastik, sabun cuci dan sabun mandi, pelarut, serat, dsb.

Setelah memberikan manfaat yang sangat besar bagi kelangsungan hidup manusia ternyata bahan kimia berbasis fosil ini tak mampu diuraikan secara alami oleh ekosistem. Kemudian timbul permasalahan baru yang tak kunjung ditemukan jalan keluarnya, yaitu sampah dan limbah B3.

Lalu munculkan konsep kimia hijau yang menjadi cabang ilmu kimia baru dan mulai berkembang pada era 1990an. Ketika itu gerakan enviromentalisme mulai fokus pada tindakan pencegahan polusi seiring dengan bangkitnya kesadaran akan bahaya dari perubahan iklim akibat penggunaan energi fosil yang berlebihan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pernah memperkirakan bahwa paparan bahan kimia tertentu telah mengakibatkan hilangnya 1,6 juta nyawa manusia pada tahun 2016. Hal ini pula yang kemudian mendorong kembali implementasi prinsip kimia hijau yang berkelanjutan.

Untuk dapat dimaklumi bahwa limbah, pada tatanan konsep, harus dimaknai sebagai buatan manusia. Alam semesta tidak pernah mengenal yang namanya limbah, karena setiap residu yang dihasilkan oleh satu jenis spesies akan digunakan sebagai bahan baku bagi spesies lainnya.

Bagaimana caranya supaya industri bahan kimia mampu menciptakan siklus berkelanjutannya sendiri? Tentunya diperlukan perencanaan rantai pasok yang sedemikian sehingga prinsip 3R (mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur-ulang) dapat terlaksana.

Secara ringkas istilah kimia hijau ini dapat dimaknai sebagai serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk menemukan metode baru dalam pembuatan produk bahan kimia sehingga kehadiran zat berbahaya dan beracun bagi lingkungan hidup dapat diminimalkan.

Tanpa kehadiran limbah beracun maka industri bahan kimia otomatis juga diuntungkan karena dapat menghemat biaya pengolahan limbah yang terkadang bisa mencapai 5 USD per kg.

Namun demikian konsep kimia hijau tampaknya lebih fokus pada pemenuhan permintaan akhir daripada mencari cara agar konsumsi berkurang. Berbeda dengan konsep energi bersih yang sangat menekankan aspek efisiensi agar manfaat dari setiap 1 unit energi yang digunakan dapat menghasilkan produk yang maksimal.

Adapun simbiosis mutualisme kimia hijau dan energi bersih timbul sebagai akibat dari kesepakatan kedua konsep tersebut untuk meninggalkan produk turunan minyak mentah. 

Apakah kimia hijau bisa punya peran besar di masa depan? Tentu saja karena konsep ini selaras dengan tujuan dari program transisi energi global menuju energi bersih ramah lingkungan.

Dalam gagasan energi bersih, minyak mentah ditinggalkan karena faktor emisi karbon sedangkan dalam konsep kimia hijau dihindari karena tak mampu diuraikan secara alami oleh ekosistem.

Motivasinya memang berbeda tapi konsep kimia hijau dan energi bersih punya "musuh bersama" yaitu energi fosil. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terserang Penyakit Mematikan dari Asap Tungku, Memasak dengan Kayu Bakar Masih Terus Merenggut Jutaan Nyawa Manusia

Biodiesel Ganja Rami (Hemp Fuel) dan Harapan (Palsu) Baru Spesies Cannabis Sativa

Baterai Dari Plastik Daur Ulang, Solusi Bagi Masalah Sampah Dunia