Perubahan Iklim dan Pertanian, Kisah Nyata Dari Selatan Afrika

Gambar: foodformzansi.co.za

Perubahan iklim akibat penggunaan energi fosil secara berlebihan punya dampak serius terhadap petani.  Dimana penurunan produktivitas pertanian terjadi sebagai akibat dari kenaikan temperatur global yang secara multidimensi akan merusak sumber daya pertanian, infrastruktur, dan sistem produksi pertanian.

Secara otomatis maka proses transisi energi global dari energi fosil ke energi bersih ramah lingkungan adalah bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan nasional.

Mengenai dampak buruk perubahan iklim pada pertanian kini makin nyata dirasakan oleh penduduk dunia terutama bagi mereka yang menghuni daerah bagian selatan benua Afrika. Dalam rencana strategis nasional untuk menghadapi perubahan iklim, pemerintah Afrika Selatan telah memprediksikan bahwa fenomena gelombang panas di negara tersebut akan terjadi secara terus menerus dalam kurun waktu ke depan.

Dalam tulisan yang lalu sudah diceritakan tentang dampak perubahan iklim terhadap ekonomi yang lebih parah daripada dampak yang telah diakibatkan oleh pandemi Covid-19.

Perubahan iklim adalah krisis global yang menghancurkan kehidupan komunitas petani Mzansi di Afrika Selatan. Cuaca tak menentu telah mengubah pola tanam yang menjadi pertaruhan antara hidup dan mati bagi keluarga petani miskin Afrika.

Dalam pernyataan resminya, Kementerian Lingkungan Hidup Afrika Selatan menyatakan bahwa cuaca ekstrem disana semakin sering terjadi, memungkinkan terjadinya peningkatan gelombang panas yang memicu kemarau panjang. Akan tetapi intensitas curah hujan juga meningkat sehingga bencana banjir di musim penghujan pun jadi tak terelakkan.

Sayangnya kejadian cuaca ekstrem ini pada kenyataannya juga dipicu oleh penggunaan pupuk kimia pada lahan pertanian secara besar-besaran. Pupuk kimia kaya akan kandungan bahan hidrokarbon, ketika di dalam tanah unsur karbon tersebut akan terlepas dengan sendirinya serta menguap ke udara.

Semakin intensif penggunaan pupuk kimia oleh sektor pertanian maka semakin banyak pula karbon yang akan dilepaskan ke udara.

Sebuah ironi bagi petani kecil yang mengelola lahan sempit dan terbatas karena setiap kali mereka menaburkan pupuk kimia di atas lahannya maka sama saja seperti sedang memotong urat nadinya sendiri secara perlahan-lahan. Tapi tanpa pupuk kimia, hasil panen dari lahan sempit milik para petani kecil itu tak akan mampu menutupi kebutuhan hidup mereka yang tak seberapa.

Begitu pula dengan penggunaan BBM murah jenis bensin dan solar, di satu sisi memang dapat memberi manfaat bagi petani. BBM murah dapat menekan tarif ongkos angkut yang berdampak pada meningkatnya nilai tukar petani. Tapi jumlah emisi karbon yang dilepaskan oleh BBM murah ini pada kemudian hari juga akan mencekik leher petani secara perlahan namun pasti.

Berikut ini adalah beberapa aspek utama yang menjadi dampak negatif perubahan iklim terhadap kelangsungan hidup para petani, yaitu:

Cuaca Tak Menentu

Pergeseran distribusi curah hujan dapat menyebabkan kemarau panjang dan singkatnya musim penghujan. Berakibat pada munculnya bencana kekeringan yang kemudian diikuti dengan banjir besar. Gagal panen kemudian akan menjadi fenomena yang umum terjadi dalam kondisi cuaca seperti ini.

Nilai Tukar Petani Tak Menentu 

Harga komoditas pertanian menjadi sangat fluktuatif akibat volume produksi yang tidak stabil. Hal ini tentunya memberi dampak buruk pada kondisi usaha petani.

Menipisnya Cadangan Air Tanah dan Air Permukaan

Perubahan iklim telah berdampak pada penurunan tingkat ketersediaan air permukaan dan air tanah sehingga tingkat kelembaban tanah pun jadi makin berkurang. Padahal pertanian butuh akan tanah yang lembab supaya tanaman tidak langsung mengering ketika cuaca panas terik menerpa disela-sela musim penghujan.

Tanah Kehilangan Humus Secara Permanen

Kekeringan dan kemarau panjang menyebabkan tanah kehilangan unsur hara, yaitu mineral alami yang dibutuhkan oleh tumbuhan untuk melakukan fotosintesis. Akibatnya petani harus memanfaatkan pupuk tambahan, baik organik maupun kimia supaya tanamannya tidak layu sebelum berkembang.

Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa perubahan iklim memaksa para petani untuk cepat beradaptasi dengan teknologi baru yang lebih bijak dalam penggunaan air serta pupuk selama masa bercocok tanam. 

Infrastruktur pertanian baru pun harus segera dikembangkan supaya pertanian tidak dirusak oleh bencana kekeringan ketika musim kemarau dan tidak pula oleh bencana banjir di musim penghujan.

Transisi energi sektor transportasi pun menjadi sesuatu yang substansial supaya kendaraan yang bersih dan ramah lingkungan dapat mengangkuti komoditi pertanian di daerah terpencil tanpa menurunkan nilai tukar petani.

Ternyata perubahan iklim, pertanian, dan proses transisi energi memiliki keterkaitan satu sama lain.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terserang Penyakit Mematikan dari Asap Tungku, Memasak dengan Kayu Bakar Masih Terus Merenggut Jutaan Nyawa Manusia

Biodiesel Ganja Rami (Hemp Fuel) dan Harapan (Palsu) Baru Spesies Cannabis Sativa

Baterai Dari Plastik Daur Ulang, Solusi Bagi Masalah Sampah Dunia