Pertamina Bisa Terus Merugi Kalau Tidak Segera Fokus Kelola Bisnis Inti

Biofuel, bahan bakar ramah lingkungan yang melimpah di Indonesia


Sektor hulu migas hingga tahun 2020 masih menopang 80% pendapatan Pertamina, membuat sektor hilir migas dan energi panas bumi tampak seperti anak bawang dalam laporan keuangan perusahaan. Hal yang sebenarnya sudah harus dikhawatirkan sejak jauh-jauh hari sebelum badai virus corona menghempas bisnis hulu migas dunia. 

Cadangan minyak dan gas bumi Indonesia bukanlah sesuatu yang begitu kemilau jika dibandingkan dengan Venezuela dan Arab Saudi. Menurut catatan worldometers, cadangan minyak bumi Indonesia berada pada urutan ke 27 dengan jumlah sebesar 3,692,500,000 bbl. 

Sedangkan cadangan punya Arab Saudi nilainya 266,578,000,000 bbl atau 72 kalinya cadangan Indonesia. Bisa dibayangkan sendiri bila disandingkan dengan cadangan minyak milik Venezuela yang konon katanya terbesar di dunia.

Semakin tipisnya cadangan migas akhirnya membuat Indonesia memilih keluar dari OPEC pada tahun 2008. Ketika itu produksi nasional bahkan sudah tak mampu lagi menyokong kebutuhan konsumsi dalam negeri. Sebagai negara importir maka tentu logis bagi Indonesia untuk terus bertahan dalam organisasi negara-negara pengekspor minyak. 

Tahun 2004 adalah pertama kalinya defisit minyak Indonesia terjadi dan masih berada pada kisaran 5 juta ton, namun terus meningkat berkali-kali lipat pada tahun berikutnya. Untuk tahun 2012 saja defisit minyak Indonesia sebesar 27 juta ton.

Entah apa gerangan yang terjadi, tiba-tiba Indonesia berkeinginan untuk kembali bergabung dengan OPEC pada tahun 2015. Hanya berselang setahun ternyata industri migas Indonesia tak mampu menghadapi keputusan pemangkasan produksi OPEC sebesar 1,2 juta bph, serta kewajiban untuk mengurangi produksi migas nasional sekitar 5 persen. Akhirnya kita pun kembali keluar dari organisasi ini untuk kedua kalinya.

Sayangnya, pengalaman tersebut tidak mendorong Pertamina untuk segera melakukan restrukturisasi agar fokus pada bisnis inti sektor energi yang didukung oleh keunggulan kompetitif nasional.

Setelah Indonesia terpaksa keluar dari OPEC untuk pertama kalinya ternyata perusahaan plat merah ini malah diketahui pernah memiliki 142 anak usaha yang bergerak segala bidang di luar sektor energi.

Sebagai contoh, lihat bagaimana sepak terjang PT. Patra Jasa, perusahaan yang bergerak di bisnis perhotelan, dan properti ini ternyata anaknya bisnisnya Pertamina. Investasinya di bidang perhotelan tergolong besar, diantaranya adalah The Patra Bali Resort & Villas, Patra Semarang Hotel and Convention, Patra Comfort Bandung Hotel, Patra Comfort Jakarta Hotel, dan Patra Comfort Parapat Lake Resort. Tak cukup sampai disitu, Patra Jasa juga memiliki apartemen Patraland Amarta yang menawarkan pemandangan Gunung Merapi di Yogyakarta.

Contoh lainnya adalah PT. Pertamina Bina Medika yang konsentrasi bisnisnya di bidang kesehatan. Kemudian PT. Pertamina Dana Ventura di bidang jasa keuangan. Tak lupa pula untuk ikut merambah ke bisnis asuransi dimana Pertamina punya PT Tugu Pratama Indonesia. 

Jangan juga dilupakan keberadaan PT. Pelita Air Service, perusahaan yang punya maskapai penerbangan itu juga merupakan anak perusahaan Pertamina. Bahkan Pertamina juga punya anak perusahaan sendiri untuk bisnis supplai tenaga kerja, event organizer, dan jasa pengamanan, yaitu PT Pertamina Training & Consulting. 

Melihat kontribusi sektor hulu yang terlalu dominan dalam struktur pendapatan perusahaan tentunya menimbulkan kesan bahwa Pertamina masih kurang tertarik untuk menggarap hilirisasi migas dan energi panas bumi. Tapi sektor lain di luar bisnis inti malah mampu dijangkau hampir seluruhnya.

Untungnya pada pertengahan 2020 ini Pemerintah mengambil langkah strategis melakukan restrukturisasi agar BUMN energi ini kembali fokus pada bisnis inti. Lima sub holding baru terbentuk setelah restrukturisasi, 

Harapannya tentu lima sub holding baru ini mampu memperbaiki keadaan sehingga tak terjadi salah fokus arah bisnis yang dapat merugikan Pertamina.

Subholding pertama adalah PT. Pertamina Hulu Energi (PHE), konsentrasinya pada sektor hulu migas. Kekuatan yang dimiliki oleh semua anak perusahan lain yang bergerak di sektor hulu migas akan terkonsolidasi dibawah kendali PHE. 

Di sektor hilir migas, dibentuk tiga subholding. Pertama, PT. Kilang Pertamina Internasional sebagai pelaku bisnis kilang dan petrokimia. Kedua, PT. Pertamina Patra Niaga yang ditugaskan mengelola SPBU, memasarkan produk BBM dan pelumas. Ketiga, PT. Pertamina International Shipping sebagai anak usaha di bisnis kapal tanker.

Untuk sektor pembangkit listrik dan energi baru terbarukan (EBT), PT. Pertamina Power Indonesia ditunjuk menjadi subholding. Sehingga PT. Pertamina Geothermal Energi yang berpengalaman mengoperasikan lapangan panas bumi di Indonesia kini berada di bawah kendali Pertamina Power.

Besar harapan para pemangku kepentingan pada restrukturisasi ini, kerugian Pertamina ketika rata-rata perusahaan migas dunia juga rugi seharusnya dapat disikapi sebagai sesuatu yang lumrah. Malah hal ini menjadi bukti bahwa bisnis hulu migas sudah tak dapat lagi dijadikan tumpuan perekonomian nasional.

Saatnya fokus pada hilirisasi migas yang selaras dengan kebijakan transisi energi dunia. Bukan waktunya lagi untuk terus menerus menghabiskan energi di sektor hulu padahal Bank Dunia sudah menghentikan pembiayaan proyek migas.

Biofuel merupakan EBT yang paling menjanjikan karena Indonesia memiliki produksi minyak sawit yang melimpah. Crude Oil Palm (CPO) bila digarap serius sebenarnya bisa membuat komoditas ini bukan lagi sebagai komoditas pangan, tapi akan berubah fungsi menjadi komoditas energi.

Kemudian air buangan di sumur-sumur panas bumi Pertamina berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber lithium. Teknologi Direct Lithium Extraction (DLE) sudah terbukti mampu menyaring mineral lithium dari brine yang pada prinsipnya merupakan sisa air dari PLTP.

Lalu Pertamina dapat bergandengan dengan BUMN lain seperti Inalum, dan PLN untuk memproduksi baterai kendaraan listrik yang bahan bakunya melimpah di dalam negeri. Sekedar mengingatkan, potensi panas bumi Indonesia adalah yang terbesar di dunia.

Kemudian menggandeng KAI dan ASDP dalam memproduksi bahan bakar nabati untuk kereta api dan kapal laut.

Sedangkan industri petrokimia dapat berkolaborasi dengan perusahaan farmasi agar nilai penggandaan pada tabel Input-Output energi nasional jadi menentramkan perasaan.

Aneh bila momentum ini tidak membuat struktur baru Pertamina di sektor hilir migas dan EBT jadi berkilauan. Karena Pertamina bisa terus merugi bila tak segera fokus kelola bisnis inti yang di dukung oleh ketersediaan sumber daya di dalam negeri.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terserang Penyakit Mematikan dari Asap Tungku, Memasak dengan Kayu Bakar Masih Terus Merenggut Jutaan Nyawa Manusia

Biodiesel Ganja Rami (Hemp Fuel) dan Harapan (Palsu) Baru Spesies Cannabis Sativa

Baterai Dari Plastik Daur Ulang, Solusi Bagi Masalah Sampah Dunia