Minyak Mentah Arab Saudi Turun Harga Lagi, 'Kabar Buruk' Buat Produsen Kecil-kecilan

Gambar: arabianbusiness.com

Aramco, perusahaan plat merah Arab Saudi membuat harga minyak mentah Arab Light untuk pasar di Asia pada Oktober mendatang turun harga lagi. Diprediksi akan turun sebesar $ 1,40 per barel sehingga harga minyak mentah akan menjadi 50 sen di bawah harga benchmark regional, menurut survei Bloomberg.

Hal ini tentunya menjadi sebuah pertanda bahwa gambaran masa depan permintaan minyak mentah Asia masih belum terpetakan, karena di tengah meningkatnya kembali kasus virus korona di beberapa negara ternyata ada negara importir minyak mentah yang malah sibuk mengembangkan bahan bakar nabati sebagai energi alternatif.

Permintaan minyak mentah anjlok tahun ini seiring merebaknya pandemi yang memaksa pemerintah menghentikan kegiatan ekonomi, maskapai penerbangan memarkir armada mereka, dan para pekerja yang mulai bekerja di rumah saja. 

Pada bulan April lalu Arab Saudi, Rusia dan produsen OPEC + lainnya setuju untuk memangkas produksi hampir 10 juta barel per hari, kira-kira 10% dari pasokan global, untuk menjaga keekonomian bisnis oil&gas.

Bisnis kilang minyak terpukul karena lambannya perputaran produk BBM di sektor transportasi, ketika ekonomi China mulai pulih pun ternyata belum mampu menyerap sepenuhnya stok minyak mentah yang menganggur. Akibatnya, laju produksi minyak pun harus ditekan agar suplai bisa setimbang dengan permintaan.

Tapi hal ini tak menyurutkan keinginan dari raksasa minyak padang pasir ini untuk membayar 75 miliar USD kepada pemegang sahamnya pada tahun ini, bahkan tetap dilakukan ketika dampak virus korona menyebabkan keuntungannya untuk kuartal terakhir anjlok hingga 73%. 

Padahal raksasa migas lainnya seperti ExxonMobil sedang mengalami masa-masa terburuknya dalam sejarah bisnis mereka.

Pada 2013, Exxon adalah perusahaan paling nilainya mencapai angka sekitar $ 418 miliar dan yang tertinggi di dunia pada saat itu. Raksasa migas itu adalah anggota terlama yang terdaftar pada indeks pasar saham blue-chip sejak 1928 ketika masih bernama Standard Oil of New Jersey. Jatuhnya ExxonMobil adalah pertanda bahwa peruntungan industri migas sudah mulai masuk masa-masa suram.

Bukan cuma ExxonMobil, raksasa energi asal Inggris yaitu BP juga melaporkan kerugian untuk kuartal kedua senilai 16,8 milyar USD karena dipaksa terus bergelut dengan ketidakpastian pasar industri minyak akibat pandemi virus korona. Akibatnya mereka akan melakukan PHK besar-besaran bagi 10.000 orang pekerja, termasuk didalamnya 2.000 pekerja yang saat ini berada pada pusat bisnis mereka di Inggris.

Untuk menyelamatkan bisnisnya, BP punya rencana strategis kedepan pada investasi di sektor energi terbarukan yang ditargetkan mencapai angka 5 miliar USD per tahun pada akhir dekade ini. 

Dalam jangka waktu yang sama, perusahaan tersebut juga menargetkan pembangunan instalasi pembangkit energi terbarukan sebesar 2,5 gigawatt.

Dengan demikian maka BP akan menjadi perusahan yang ikut melakukan dekarbonasi dalam bisnis intinya.

Jika 'raksasa' migas punya keputusan demikian maka bagaimana sepatutnya produsen 'kecil' semisal Pertamina?

Tentunya pilihan yang dimiliki hanya satu, yaitu fokus pada bisnis inti yang punya keunggulan kompetitif.

Tetap 'keras kepala' seperti Aramco yang terus berinvestasi di migas adalah pilihan yang kurang cermat karena fokus pada pengembangan energi alternatif seperti yang sudah dilakoni oleh negara-negara importir lainnya adalah pilihan yang lebih rasional.

Untuk apa menggenjot produksi minyak sendiri bila kenyataannya harga minyak mentah impor masih jauh lebih murah? Kalau hanya sekedar untuk menjaga stabilitas di sektor ketenagakerjaan semasa transisi maka hal tersebut tentu masih dapat dimaklumi. Tapi tidak sepatutnya dilakukan terus menerus tanpa solusi jangka panjang.

Semakin tipisnya cadangan migas sudah membuat Indonesia memilih keluar dari OPEC pada tahun 2008. Dan sekaranglah saatnya Pertamina fokus pada hilirisasi migas yang selaras dengan kebijakan transisi energi dunia. Bukan waktunya lagi untuk terus menerus menghabiskan energi di sektor hulu ketika Bank Dunia sudah menghentikan pembiayaan proyek migas.

Biofuel merupakan EBT yang paling menjanjikan bagi Pertamina karena Indonesia memiliki produksi minyak sawit yang melimpah. Crude Palm Oil (CPO) bila digarap serius bisa membuat komoditas pangan ini berubah fungsi menjadi komoditas energi yang punya nilai tambah besar. Kemudian dengan menggandeng KAI dan ASDP, Pertamina dapat memproduksi bahan bakar nabati untuk kereta api dan kapal laut, yang keberhasilannya akan menjadi terobosan besar transisi energi di sektor transportasi.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terserang Penyakit Mematikan dari Asap Tungku, Memasak dengan Kayu Bakar Masih Terus Merenggut Jutaan Nyawa Manusia

Biodiesel Ganja Rami (Hemp Fuel) dan Harapan (Palsu) Baru Spesies Cannabis Sativa

Baterai Dari Plastik Daur Ulang, Solusi Bagi Masalah Sampah Dunia