MBS Menguras Brankas Aramco Buat Modal Proyek EBT

Kota Riyadh/pikist.com

Keuangan perusahaan minyak terbesar dunia, Aramco, dikabarkan semakin terjepit. Pemimpin de facto Arab Saudi, Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) membutuhkan uang Aramco untuk memenuhi target blue print ambisiusnya, yaitu meninggalkan ketergantungan ekonomi kerajaan Saudi pada bahan bakar fosil.

Bahkan ketika minyak mentah turun menjadi 40 USD per barel dalam minggu ini, Aramco masih tetap akan membayarkan dividen 75 milyar USD yang sebagian besarnya untuk pemerintah.

MBS telah berjanji untuk mendiversifikasi ekonomi kerajaannya dari minyak bumi, untuk itu dia telah menghabiskan miliaran USD pada proyek kota-kota futuristik yang menawarkan jasa bisnis, pariwisata dan layanan keuangan. Untuk itulah mengapa kemudian uang Aramco tetap dikuras walaupun harga minyak mentah sedang ambruk.

Proyek Mall of Saudi Senilai 3,2 Milyar USD yang akan diselesaikan pada 2025 /index-saudi.com

Sebelumnya pada tahun 2018, Arab Saudi telah menerima tawaran dari empat konsorsium yang bersaing untuk membangun proyek Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) senilai 500 juta USD. Proyek ini merupakan bagian dari upaya MBS untuk meragamkan sektor energi Arab Saudi.

Proyek PLTB skala besar pertama yang membuka babak baru perjalanan Arab Saudi menuju era transisi energi. Proyek ini akan menghasilkan listrik yang dapat memasok kebutuhan 70.000 rumah tangga di Saudi. 

Mengingat kembali fakta tentang program energi nasional Saudi yang bertujuan untuk meningkatkan pangsa energi terbarukan menjadi 3,45 gigawatt pada tahun 2020 dan hingga 9,5 GW pada tahun 2023 maka tak heran bila dividen Aramco tetap dibayarkan sesuai target.

Tak seperti yang dibayangkan, ternyata negara-negara teluk yang kaya minyak sudah mempersiapkan ekonominya keluar dari energi fosil layaknya negara-negara Uni Eropa.

MBS juga pernah mengumumkan rencana untuk mengembangkan proyek tenaga surya terbesar di dunia yang memerlukan investasi sebesar 200 miliar USD dalam kemitraan dengan grup SoftBank Jepang. Dalam nota kesepahaman tersebut disepakati target 200 gigawatt listrik dari PLTS untuk menyukseskan target Saudi Vision pada tahun 2030 yang tentunya akan disertai dengan pembangunan fasilitas energy storage.

Ternyata bukan cuma perusahan minyak Eropa yang memilih putar haluan ke energi terbarukan, Aramco pun tampaknya sedang melakukan hal yang sama. Dan transformasi energi akan menjadi salah satu elemen utama yang membentuk kembali peta geopolitik abad ke-21.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terserang Penyakit Mematikan dari Asap Tungku, Memasak dengan Kayu Bakar Masih Terus Merenggut Jutaan Nyawa Manusia

Biodiesel Ganja Rami (Hemp Fuel) dan Harapan (Palsu) Baru Spesies Cannabis Sativa

Baterai Dari Plastik Daur Ulang, Solusi Bagi Masalah Sampah Dunia