Marine Bio Fuel Oil Pertama Dari ExxonMobil

Gambar: exxonmobil.com

 

Apakah istilah Marine Fuel Oil (MFO) sudah tidak asing lagi di telinga kita? Sepertinya istilah yang satu ini masih asing bagi kebanyakan orang kecuali bagi mereka yang bergelut di bidang minyak bumi dan bahan bakar.

MFO merupakan bahan bakar minyak umum digunakan pada industri besar yang membutuhkan proses pembakaran langsung dan juga lazim digunakan sebagai bahan bakar untuk generator uap. Bahan bakar jenis ini masuk ke dalam katagori residu yang teksturnya berwarna hitam pekat dan lebih kental dari pada minyak diesel.

Disebut sebagai Marine Fuel Oil karena konsumen terbesar dari bahan bakar ini adalah industri pelayaran. Mesin generator listrik dan mesin diesel kapal keduanya menggunakan MFO dalam jumlah besar, mengantarkan industri pelayaran untuk berada tepat di belakang Jepang dalam daftar penyebab polusi udara terbesar dunia

Padahal pada abad 19, orang Jepang sendiri masih terkagum-kagum dengan kapal-kapal perang bermesin uap milik Angkatan Laut AS yang berlabuh Uraga pada 1853. Mereka menamainya sebagai Kapal Hitam, menggambarkan asap hitam yang keluar dari mesin uap berbahan bakar batubara dalam skuadron kapal perang Amerika tersebut.

Namun satu abad kemudian ternyata sektor perkapalan sangat terbuka terhadap isu perubahan iklim yang membuat dunia pelayaran menjadi sangat unik dibandingkan dengan industri lain.

Kali ini kabar terbaru datang dari ExxonMobil, perusahan energi raksasa asal Amerika Serikat itu mengumumkan keberhasilan uji coba pelayaran dengan Bahan Bakar Nabati (BBN) produknya pada kapal milik perusahaan pelayaran Stena Bulk, yang bermarkas di pelabuhan Rotterdam-Belanda.

BBN tersebut dinamai sebagai Marine Bio Fuel Oil (MBFO) dan merupakan bahan bakar berbasis residu sulfur 0,50% (Very Low Sulphur Fuel Oil/VLSFO). Mulai akhir tahun ini ExxonMobil akan menyediakan MBFO ke seluruh pelabuhan dalam jaringan distribusinya, yang diawali dari pelabuhan Rotterdam.

Uji coba tersebut menunjukkan bahwa MBFO dapat digunakan langsung pada mesin kapal tanpa perlu adanya modifikasi apapun. Dan yang paling penting adalah kemampuannya untuk mengurangi dampak emisi CO2 hingga 40% bila dibandingkan dengan MFO yang konvensional.

Upaya dari perusahaan energi seperti ExxonMobil ini sangat penting peranannya dalam menyukseskan target Organisasi Maritim Internasional (International Maritime Organization) yang ingin menihilkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dari industri pelayaran pada tahun 2050. Sebuah upaya transisi energi yang luar biasa setelah berubahnya mindset para pengusaha.

Industri pelayaran mengakui manfaat bahan bakar nabati dalam mengurangi efek GRK, dan MBFO tersebut sudah memenuhi persyaratan batasan kadar sulfur yang berlaku secara global serta telah menjalani pengujian kritis dan ekstensif.

Uji pelayaran yang dilakukan oleh Stena Bulk selaku operator kapal tanker terkemuka dunia Stena Bulk merupakan bagian dari protokol uji coba dalam proses penilaian ExxonMobil terhadap kelaikan produk MBFO-nya. Hasilnya menunjukkan bahwa MBFO tidak menimbulkan efek kerusakan pada peralatan saat beroperasi dengan tingkat komponen bio yang lebih tinggi.

Cowan Lee, manajer pemasaran produk marine fuels milik ExxonMobil menyatakan bahwa MBFO produksi perusahaannya sudah mampu memenuhi kebutuhan industri pelayaran akan bahan bakar baru yang ramah lingkungan, memenuhi persyaratan kadar sulfur dan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam membantu operator pelayaran untuk mengurangi emisi CO2 sesuai target Organisasi Maritim Internasional.

Untuk dimaklumi bahwa uji coba pelayaran oleh Stena Bulk itu dilakukan saat kapal beroperasi secara komersial. Uji coba tersebut mencakup evaluasi penyimpanan, penanganan, dan perawatan on-board, dankonsumsi bahan bakar dalam mesin kapal dan mesin-mesin penunjang kapal lainnya.

Perluasan pemanfaatan bahan bakar nabati (BBN) sebagai pengganti bahan bakar fosil di industri pelayaran adalah sebuah terobosan yang juga layak dilakukan oleh perusahan energi nasional kita seperti Pertamina.

Pertamina Research & Technology Center (RTC)-ITB sudah mampu membuat bahan bakar dengan memakai 100% bahan nabati. Pada bulan Juli yang lalu, mereka berhasil merealisasikan hal tersebut dengan meluncurkan produk D100.

Mandatori biodiesel pada kapal laut pun akan sangat efektif untuk menekan impor BBM, menghemat anggaran, dan mewujudkan impelementasi penggunaan energi bersih yang ramah lingkungan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terserang Penyakit Mematikan dari Asap Tungku, Memasak dengan Kayu Bakar Masih Terus Merenggut Jutaan Nyawa Manusia

Biodiesel Ganja Rami (Hemp Fuel) dan Harapan (Palsu) Baru Spesies Cannabis Sativa

Baterai Dari Plastik Daur Ulang, Solusi Bagi Masalah Sampah Dunia