Kisah Pebisnis Migas Yang Menyangkal Fakta Ilmiah Perubahan Iklim

Gambar: Science Node

Sejak era 1950an, perusahaan migas sudah terbukti menjadi industri yang terdepan dalam memanfaatkan teknologi baru serta punya strategi manajemen risiko yang nyaris sempurna. Adalah hal yang lumrah bagi para pengusaha migas untuk membiayai para politisi dan akademisi agar regulasi dan opini sains berpihak pada bisnis migas.

Dari berbagai rumor yang sempat beredar, ada satu kisah lampau yang sangat erat kaitannya dengan isu perubahan iklim, yaitu kisah tentang kesaksian Prof. Martin Hoffert ketika beliau masih muda belia di tahun 1981.

Beruntungnya, BBC berhasil merangkai kembali kumpulan fakta masa lalu ketika pengusaha migas berani menyangkal fakta ilmiah perubahan iklim yang disajikan oleh penelitinya sendiri.

Ketika diwawancai oleh BBC, Prof. Hoffert mengisahkan saat itu dirinya bekerja di Exxon sebelum perusahaan itu menjadi ExxonMobil sebagai peneliti. Dia sendiri menggambarkan tentang dirinya dan teman-temannya ketika itu sebagai sekumpulan anak muda kutu buku yang mendapatkan perangkat komputer canggih.

Exxon sendiri sedang membiayai proyek penelitian tentang pemanasan global dan perubahan iklim, sebuah proyek besar dengan bujet hingga jutaan USD dimana Martin ikut serta terlibat.

Hingga pada suatu hari, Martin Hoffert muda berulang kali menyeka wajahnya yang begitu dekat layar komputer miliknya. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, ternyata dampak pemanasan global pada perubahan iklim sangat signifikan dan membahayakan.

Sebagai ahli di bidang ilmu kebumian, Hoffert merancang sendiri sebuah model komputer yang mampu memperkirakan dampak perubahan iklim apabila konsumsi energi fosil dunia tidak dikurangi. Dan dia adalah salah satu diantara beberapa ahli yang pertama kali menemukan fakta tentang kaitan antara energi fosil, pemanasan global, dan perubahan iklim.

Lalu dengan serius dirinya menunjukkan kepada rekan-rekan peneliti lainnya tentang apa yang mungkin terjadi jika penggunaan bahan bakar fosil pada mobil, kapal laut dan pesawat terbang tidak dibatasi.

Namun yang paling menyedihkan adalah respon daripada atasannya ketika dia memaparkan fakta ilmiah tersebut. Dengan ringan para manajer Exxon itu menyangkal temuannya dan berdalih bahwa model buatan Hoffert itu keliru.

Bagi Hoffert muda hal tersebut adalah sebuah pengkhiatan bagi dunia sains, karena para manajer itu sebenarnya hanya sedang berusaha menyelamatkan muka Direktur Exxon, Lee Raymond, yang terlanjur mengatakan bahwa penelitian Exxon tidak menemukan bukti ilmiah tentang pemanasan global dan perubahan iklim.

Kesal dengan sikap para pebisnis migas itu, Martin Hoffert memilih untuk kembali ke jalur akademis hingga akhirnya berhasil menjadi Profesor di bidang Ilmu Kebumian pada New York University (NYU), Amerika Serikat.

"Mereka tak bermoral. Mereka menyebarkan keraguan tentang bahaya perubahan iklim ketika peneliti mereka sendiri memastikan betapa seriusnya ancaman itu." kata Hoffert kepada BBC.

Lantas publik Amerika Serikat dikejutkan oleh Doktor Hansen, seorang ilmuwan NASA yang mengumumkan bahwa efek rumah kaca telah terdeteksi dan mengubah iklim dunia. Tahun 1988, musim panas panjang pun melanda dunia cukup lama, bukti bahwa model buatan Hoffert itu tidak keliru.

Margaret Thatcher yang menjadi Perdana Menteri Inggris sejak 1979 hingga 1990 menjadi politisi pertama yang mengakui perubahan iklim sebagai ancaman global baru bagi kelangsungan hidup manusia.

Tahun 1989, Manajer Sains dan Strategi Exxon, Duane Levine, akhirnya memaparkan hasil penelitian mereka tentang perubahan iklim secara rahasia pada dewan perusahaan. Satu dari ribuan dokumen penelitian Exxon tersebut dihibahkan untuk Unversity of Texas, dokumen itulah yang kemudian sering dikutip oleh para peneliti perubahan iklim.

Peneliti di Climate Investigation Center akhirnya membongkar fakta bahwa Exxon benar-benar menyembunyikan fakta ilmiah tentang perubahan iklim karena takut bisnis migas mereka hancur. Hal ini juga yang kemudian menyulut emosi para demontran pecinta lingkungan dan membuat mereka merayakan momen terdepaknya ExxonMobil dari DowJones

Begitulah kekuatan pebisnis migas yang mampu membentuk opini publik dan menyebarkan keraguan tentang perubahan iklim.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terserang Penyakit Mematikan dari Asap Tungku, Memasak dengan Kayu Bakar Masih Terus Merenggut Jutaan Nyawa Manusia

Biodiesel Ganja Rami (Hemp Fuel) dan Harapan (Palsu) Baru Spesies Cannabis Sativa

Baterai Dari Plastik Daur Ulang, Solusi Bagi Masalah Sampah Dunia