ExxonMobil, Gas Alam, dan Transisi Energi

Gambar: exxonmobillng.com


Boleh jadi ExxonMobil (XOM) adalah perusahaan energi kebanggaan pemerintah Amerika Serikat (AS) karena karya monumental mereka menjadi ikon kejayaan industri gas alam sepanjang peradaban dunia modern.

Pada tahun 1971 atau satu dasawarsa sebelum isu perubahan iklim didengungkan, Mobil Oil menemukan cadangan gas alam yang sangat besar di Aceh Utara. Temuan ini kemudian mendorong terbentuknya Kawasan Industri Lhokseumawe (KIL) dimana "uji coba" LNG export terminal untuk pertama kalinya dilakukan secara besar-besaran.

22 tahun kemudian Mobil Oil diakuisisi oleh Exxon sehingga aset mereka di KIL kemudian dikelola oleh XOM. Lalu 19 tahun kemudian, kembali terjadi kejadian menarik yang seakan menahbiskan lapangan gas Arun sebagai "laboratorium gas alam dunia". Export terminal di kilang LNG Arun diubah menjadi import terminal, sesuatu yang juga pertama kalinya dibuat di dunia.

Hampir setengah abad lamanya, XOM terlibat dalam sebuah proses transisi energi dunia dengan memperkenalkan LNG sebagai komoditas energi baru yang lebih bersih; dan bisa menyuplai listrik untuk menghidupkan industri elektronik dan otomotif Jepang serta Korea Selatan.

Tapi tulisan Vladimir Dimitrov yang dipublikasikan oleh SeekingAlpha mengungkap banyak fakta menarik lain tentang perusahaan energi satu ini.

Nasib XOM sebagai perusahan oil&gas sedang berbalik arah, akibat pandemi virus korona para investor mendadak menarik modalnya dari bisnis perminyakan.

Seperti tajuk 'Big Oil has fallen' yang diwartakan oleh Independent pada bulan Agustus yang baru lampau, sentimen pasar energi pada tahun ini sangat dipengaruhi oleh pandangan para pencinta lingkungan yang merayakan kemenangan mereka ketika XOM terdepak dari Dow Jones. Hal ini sudah pernah dibahas pada tulisan yang lalu.

Jatuhnya saham XOM memang sebuah pertanda bahwa kejayaan industri migas mulai meredup. Pandemi Covid-19 membawa momentum bagi penanganan krisis iklim yang membutuhkan pembatasan penggunaan bahan bakar fosil.

Namun tidak semua hal dalam hidup ini bisa dinilai secara hitam dan putih. Transisi energi bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan dengan sekejap mata. Adalah sebuah kenaifan bila mengharapkan dunia secara tiba-tiba dipenuhi dengan mobil listrik, panel surya, turbin angin, dan pesawat berbahan bakar hidrogen.

Kondisi masa depan yang paling ramah lingkungan sekalipun diperkirakan masih akan tetap menggunakan gas alam dan nuklir disamping hidrogen. Itulah sebabnya mengapa hujatan para pecinta lingkungan terhadap perusahaan migas seperti XOM jadi agak menggelikan bila dilihat dari sisi ini.

Beda halnya apabila kita lebih melebarkan pandangan pada tuduhan skandal penyangkalan fakta ilmiah perubahan iklim yang dilakukan Exxon pada tahun 1981. Perusahaan migas ini pernah mengumpulkan ilmuan untuk meneliti dampak penggunaan energi fosil pada pemanasan global. Tapi ketika ilmuan mereka sendiri menemukan fakta ilmiah yang bertolak belakang dengan misi bisnisnya, para manajer Exxon menolak untuk menerima hal tersebut apa adanya.

Akan tetapi masyarakat pencinta lingkungan juga harus menyadari bahwa kelancaran transisi energi justru terletak pada kinerja perusahaan-perusahaan migas. Karena LNG masih memiliki peran vital dalam pangsa pasar energi bersih masa depan. Demikian setidaknya yang diperkirakan oleh Royal Dutch Shell.

Analisa Dimitriov pun membuka cakrawala baru bagi pemerhati transisi energi, dimana dia menjelaskan mengapa Warren Buffets mau mempertaruhkan 9,7 miliar USD untuk industri LNG di masa depan.

Permintaan energi terbarukan memang sedang meningkat pesat, membuat industri ini mendapatkan aliran modal secara besar-besaran. Tapi bagi pengusaha besar, hal ini malah menjadi peluang untuk menguasai industri perminyakan secara umum dan pasokan gas alam secara khusus.

Larinya investor dari migas ke energi terbarukan bukan hanya membawa dampak positif bagi transisi energi semata tapi juga mengurangi persaingan dalam industri perminyakan yang ternyata menjadi kabar baik bagi konglomerat semisal Warren Buffet.

Dan ExxonMobil menjadi perusahaan yang sangat direkomendasikan oleh Dimitriov bila ada konglomerat yang mau menyimpan modalnya dalam jangka 'yang' sangat panjang di industri perminyakan.

Pertama, XOM adalah pemain terbesar di sektor LNG dan terbukti mampu berinvestasi dalam mega proyek kilang LNG yang paling menguntungkan sepanjang sejarah industri gas alam.

Kedua, hutang XOM rendah sehingga neraca keuangannya kuat. Dengan demikian, secara finansial ExxonMobil lebih stabil sehingga memiliki peluang terbaik untuk dapat bertahan lebih lama hingga tiba waktunya memetik manfaat dari rendahnya tingkat persaingan industri gas alam di masa depan.

Meskipun pangsa energi terbarukan pasti akan meningkat pesat selama beberapa dekade mendatang, gas alam tetap akan hidup berdampingan dengan energi surya dan angin. 

Selain karena gas alam merupakan energi fosil yang paling bersih, XOM ternyata juga telah berinvestasi dalam pengembangan teknologi biofuel, carbon capture (penangkapan karbon), dan hidrogen. Mengantarkan perusahaan ini menjadi entitas yang paling sehat secara finansial di sektor perminyakan dan salah satu yang paling siap untuk menjalankan misi transisi energi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terserang Penyakit Mematikan dari Asap Tungku, Memasak dengan Kayu Bakar Masih Terus Merenggut Jutaan Nyawa Manusia

Biodiesel Ganja Rami (Hemp Fuel) dan Harapan (Palsu) Baru Spesies Cannabis Sativa

Baterai Dari Plastik Daur Ulang, Solusi Bagi Masalah Sampah Dunia