Energi Terra Incognita, Energi Terbarukan dan Perubahan Geopolitik

Image by mary1826 from Pixabay

Terra incognita atau terra ignota adalah istilah untuk "tanah yang tak dikenal" dalam ilmu kartografi,  untuk daerah yang belum dipetakan atau didokumentasikan.

Konon Ptolemy, yang bernama lengkap Claudius Ptolemaeus, seorang ahli geografi yang hidup pada zaman Helenistik di provinsi Aegyptus pada masa kekaisaran Romawi kuno adalah orang pertama yang menggunakan istilah terra incognita.

Image by DarkWorkX from Pixabay

Semasa hidupnya di abad kedua masehi, Ptolemy kerap mewawancarai para pelaut romawi yang telah menjelajah ke berbagai wilayah kekuasan kaisar mereka, terbentang dari semenanjung Iberia sebagai ujung paling barat dunia yang dikenal ketika itu hingga ke Damaskus yang berbatasan langsung dengan wilayah Persia.

Walau berhasil membuat peta bumi yang dikuasai Romawi, Ptolemy sadar bahwa dia belum mampu membuat semuanya. Ia merasa hanya mengambar satu per sekian saja dari luas bumi, selebihnya kosong, karena wilayah kekuasan Persia yang luas belum mampu dijangkau alam khayalannya.

Ketika pandemi terra incognita itu dipercaya benar adanya maka energi terra incognita bakal menjadi ikutannya saja.

Image by AbsolutVision from Pixabay

Akhir tahun 2019 pun tak seorang pun pakar menebak akan terjadi fenomena 'Big Oil Has Fallen' hingga Exxon Mobil bisa terdepak dari bursa Dow Jones.

Kesadaran lingkungan para pelaku usaha ketika pandemi virus corona menerpa adalah sebuah berkah dalam musibah. Hasilnya pun terlihat jelas, sebut saja perusahaan Korea Selatan yang sedang memproduksi BBN sebagai bahan bakar kapal mereka.

Lalu Inggris yang begitu totalitas dalam proyek energi angin mereka walau harus membiayai proyek kabel bawah laut senilai Rp. 11 triliyun.

Kemudian Shell, BP, dan Equinor yang sepakat meninggalkan sektor migas pindah ke sektor energi terbarukan.

Perusahan mobil listrik yang masih 'bau kencur' kini memiliki bisa kekayaan yang lebih besar dibandingkan dengan kekayaan Ford dan General Motors. Mendorong investasi di sektor energi terbarukan menjadi lebih bergariah di tahun depan dan mengalahkan sektor migas secara telak.

Arah perjalanan perubahan sistem energi global tampak jelas, yaitu: pergeseran historis dari bahan bakar fosil yang telah membentuk nasib bangsa-bangsa dunia selama lebih dari satu abad ternyata sedang berlangsung.

Sumber energi terbarukan yang paling utama adalah bioenergi, panas bumi, tenaga air, laut, matahari dan angin. Paling cepat pertumbuhan pemanfaatannya adalah energi matahari dan angin karena teknologi panel surya dan turbin angin yang semakin mutakhir.

Image by ElisaRiva from Pixabay

Mengapa energi terbarukan akan mengubah peta geopolitik?

Pertama, sumber daya energi terbarukan tersedia secara merata di seluruh negara, tidak seperti bahan bakar fosil yang terkonsentrasi di lokasi geografis tertentu. Hal ini mengurangi peran penting titik distribusi energi saat ini, seperti terusan Suez dan Panama sebagai dua saluran sempit di jalur laut yang sangat penting bagi lancarnya pasokan minyak global.

Kedua, sebagian besar energi terbarukan ditemui dalam bentuk aliran, seperti aliran panas atau angin, sedangkan bahan bakar fosil bentuknya berupa persediaan (stok). Stok energi fosil memang lebih mudah untuk disimpan tapi hanya bisa digunakan sekali pakai sehingga suplainya gampang terganggu. Sebaliknya, aliran energi terbarukan tidak habis dengan sendirinya dan suplainya lebih sulit untuk diganggu.

Ketiga, sumber energi terbarukan dapat digunakan di hampir semua skala dan lebih cocok untuk bentuk desentralisasi produksi dan konsumsi energi. Ini menambah efek demokratisasi dari energi terbarukan.

Keempat, sumber energi terbarukan memiliki biaya marjinal hampir nol, dan beberapa di antaranya, seperti tenaga surya dan angin, biaya investasinya kini bisa 20% lebih murah untuk setiap penggandaan kapasitas. Hal ini meningkatkan kemampuan energi terbarukan untuk mendorong transisi energi. 

Namun demikian, solusi dari regulasi untuk memastikan stabilitas dan profitabilitas di sektor tenaga listrik tetap dibutuhkan. 

Dunia kita sedang memasuki sebuah wilayah baru yang belum dikenal. Walaupun kemampuan para pakar untuk menyampaikan analisis berhasil mengundang decak kagum peserta audiensi, tetap saja mereka sedang membicarakan tentang sebuah wilayah yang belum terpetakan.

Transformasi energi akan menjadi salah satu elemen utama yang membentuk kembali peta geopolitik abad ke-21. Ilmuan, pengusaha dan pemerintah kini sedang menyeka awan terra incognita di atas bagian peta peradaban energi, dan masing-masing negara pastik sedang sibuk mencari posisinya sendiri. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terserang Penyakit Mematikan dari Asap Tungku, Memasak dengan Kayu Bakar Masih Terus Merenggut Jutaan Nyawa Manusia

Biodiesel Ganja Rami (Hemp Fuel) dan Harapan (Palsu) Baru Spesies Cannabis Sativa

Baterai Dari Plastik Daur Ulang, Solusi Bagi Masalah Sampah Dunia