Dampak Perubahan Iklim Terhadap Ekonomi Bisa Lebih Parah Dari Akibat Pandemi

Dampak Bencana Kekeringan di Namibia, Selatan Afrika (Gambar: wikimedia.org)

Pandemi memang berdampak buruk pada ekonomi, menciptakan krisis global yang memaksa kebanyakan orang untuk tidak meninggalkan rumah. Namun dampak dari pemanasan global ternyata lebih parah lagi.

Masyarakat yang bergantung pada sektor riil sedang menghadapi kesulitan ekonomi yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Sebelum merebaknya Covid-19, bisnis perhotelan dan penerbangan merupakan sektor ekonomi andalan bagi berbagai daerah desnitasi wisata. Tapi akibat pandemi, kedua bisnis ini menjadi yang paling pertama terpuruk dan paling terakhir bangkit kembali.

Saat ini memang masih sulit untuk mengajak masyarakat di negara berkembang untuk memikirkan masalah seperti perubahan iklim. Apalagi ketika bencana besar seperti Covid-19 sedang melanda, sudah menjadi tabiat alamiah bagi manusia bila perhatiannya lebih tertuju pada kebutuhan pokok kehidupannya yang paling mendesak.

Sejak era 60an, pakar antardisiplin ilmu mulai membahas isu lingkungan dengan cara meng-integrasi-kan hasil studi di bidang Fisika, Biologi, Ekologi, Kimia, Zoologi, Mineralogi, Limnologi, Geologi, Geofisika, dan Ilmu Tanah. Semua ilmu tersebut konon adalah makanannya anak IPA semasa duduk di bangku SMA dulu.

Kajian interdisipliner itu bertujuan untuk mencari solusi mengenai permasalahan lingkungan hidup sebagai akibat dari industrialisasi. Di antara tokoh terkenalnya adalah Rachel Carson, seorang ahli biologi kelautan, penulis buku Silent Spring yang dipublikasikan pada tahun 1962, dimana dia mengulas tentang dampak buruk pestisida bagi ekosistem. Dan ternyata bukunya berhasil membuat publik Amerika Serikat ketika itu menjadi sadar akan arti pelestarian lingkungan hidup.

Mulai saat itulah gerakan environmentalisme didengungkan, berkembang menjadi filosofi, ideologi dan gerakan sosial yang luas mengenai masalah konservasi lingkungan dan peningkatan kualitas lingkungan hidup.

Hingga akhirnya pada era 1990an, topik perubahan iklim mulai hangat dibicarakan. Seiring dengan kemunculan model simulasi komputer, para ahli akhirnya membuat konsensus bahwa Teori Milankovitch mengenai Zaman Es terbukti benar. 

Dalam teori tersebut emisi karbon diyakini menjadi penyebab utama pemanasan global. Dan semua kita sudah maklum jika pembangkit listrik dan kendaraan bermotor yang menggunakan energi fosil merupakan penghasil emisi terbesar dunia.

Industri pelayaran saja apabila dianggap sebagai satu negara akan menduduki peringkat ke-6 dalam daftar negara pencemar udara terbesar di dunia.

Peningkatan suhu global yang tak terkendali akan menyebabkan perubahan kondisi alam secara dramatis. Siklus musim yang selama ini kita pelajari akan berubah secara permanen. Intensitas terjadinya angin topan, puting beliung, banjir bandang akan terus meningkat dan bahkan bisa mengubah sebagian wilayah gurun pasir menjadi daerah dengan musim salju yang panjang.

Akibat kenaikan temperatur yang hampir menyentuh level 2 derajat Celcius saja, ketersedian air bersih di beberapa area subtropis sudah sangat terganggu, hasilnya adalah gagal panen dan musim kering yang panjang. Mencekik leher para petani kacang tanah di Kwahu Afram-Ghana yang pada saat yang sama juga sedang berusaha bertahan hidup di masa pandemi.

Apalagi bila sampai menyentuh angka 4 derajat Celcius, wilayah di bagian selatan Afrika dan cekungan Mediterania besar kemungkinan akan kehilangan sumber air bersihnya secara total.

Seburuk apapun dampak pandemi terhadap ekonomi tak sebanding dengan dampak perubahan iklim terhadap ekonomi.

Tapi ada fakta menarik dari survei yang dilakukan oleh Haven Power karena ternyata 70% pengusaha mengaku bahwa lockdown semasa pandemi ini telah berhasil membuat mereka menjadi lebih sadar lingkungan dan harus segera beradaptasi untuk siap menghadapi era new normal.

Pandemi Covid-19 telah melemahkan keuangan perusahaan energi yang bergantung pada industri minyak dan gas. Dampak ekonomi yang menghancurkan bisnis ini telah memaksa perusahaan-perusahan migas raksasa untuk memangkas nilai saham, menambah utang, dan menjual atau setidaknya menurunkan nilai aset mereka. Para analis energi pun yakin jika harga harga minyak dan gas dunia kemungkinan akan terus berada pada level terendah hingga tahun 2050.

Badan Energi International (International Energy Agency) memperkirakan bahwa terjadi penurunan produksi gas rumah kaca sebesar 8% selama pademi melanda, artinya pada tahun ini atmosfer bumi masih harus rela dijejali lagi dengan tambahan 47 miliar ton karbon, berkurang sekitar 4 milyar dari yang diperkirakan sebelumnya.

Ironi dibalik fakta akan prestasi minus 4 miliar karbon tersebut adalah kematian akibat virus korona yang mau menembus angka 1 juta jiwa serta gelombang PHK besar-besaran akibat matinya bisnis transportasi dan pariwisata. Secara global diperkirakan jumlah kasus PHK yang terjadi pun sudah mencapai angka 10 juta pekerja.

Tapi bila direnungkan secara seksama, jumlah kematian dan angka pengangguran yang akan disebabkan oleh pemanasan global bisa lebih parah dari apa yang terjadi selama dunia dilanda pandemi Covid-19.

Musibah sosial ekonomi akibat pandemi dapat segera reda setelah vaksin ditemukan, tapi musibah sosial ekonomi akibat perubahan iklim pasti butuh puluhan tahun untuk bisa pulih kembali.

Pertanyaan selanjutnya yang masih misteri adalah bagaimana caranya pemegang kekuatan ekonomi global akan bersikap agar perputaran ekonomi dunia dapat sejalan dengan misi lingkungan hidup?

Tidak mungkin kemudian kita dipaksa untuk terus berada dalam kungkungan program social distancing atau physical distancing. Menghentikan bisnis penerbangan dan pariwisata adalah sebuah kemunduran sosial di era globalisasi. Sektor penerbangan dan pariwisata adalah dua model bisnis global yang telah berhasil menghindarkan peradaban dunia untuk saling berperang dan menyerang satu sama lain.

Dunia butuh solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan pemanasan global. Menghalangi orang untuk bepergian dan memulai bisnis online terkesan begitu bijak kedengarannya. Padahal bagi sebagian kelompok masyarakat urusan bepergian ini adalah urusan antara hidup dan mati. 

Kehidupan para petani di daerah terpencil sangat tergantung pada lancarnya transportasi pengiriman hasil panen mereka, bahan bakar kendaraan seperti bensin dan solar selama ini sudah terbukti bisa menjadi opsi yang paling tepat bagi pemerintah di negara berkembang supaya kesejahteraan petani kecil mereka terjaga. BBM jenis ini harganya murah serta mudah diperoleh, mampu menekan ongkos pengangkutan sehingga nilai tukar petani pun meningkat.

Kita butuh temuan-temuan baru yang membuat kita mampu mempertahankan perputaran roda ekonomi global tanpa menambah produk emisi karbon. Urgensi keberadaan vaksin virus corona pun rasanya tidak pantas untuk disandingkan dengan kebutuhan dunia akan teknologi-teknologi baru yang ramah lingkungan.

Kita harus segera menghilangkan jejak karbon dari pembangkit listrik serta bahan bakar mobil, kereta api, kapal laut dan pesawat. Karena perjuangan para aktivis perubahan iklim itu sejatinya adalah untuk menyelamatkan kehidupan manusia dan ekonomi dunia, bukan sebaliknya seperti yang telah dilakukan oleh virus korona. 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terserang Penyakit Mematikan dari Asap Tungku, Memasak dengan Kayu Bakar Masih Terus Merenggut Jutaan Nyawa Manusia

Biodiesel Ganja Rami (Hemp Fuel) dan Harapan (Palsu) Baru Spesies Cannabis Sativa

Baterai Dari Plastik Daur Ulang, Solusi Bagi Masalah Sampah Dunia