Asap Fosil Ternyata Seperti Tembakau, Sama-sama Bikin Kecanduan

Gambar: wikimedia.org


Bukti pemanasan global begitu kasat mata tapi masih banyak kalangan berpengaruh yang tidak percaya jika hal tersebut terjadi karena bahan bakar fosil.

Diantaranya adalah fenomena menghijaunya kawasan Artika pada musim panas tahun ini seperti yang dilaporkan oleh Phys.

Artika adalah sebuah wilayah tundra di kutub utara yang membentang luas sejak dari kawasan Rusia menuju Alaska dan Kanada hingga Greenland, Islandia, Lapland, Norwegia serta berujung di Samudera Artik.

Tundra merupakan daerah beku dan tandus di kutub utara dimana rumput pun tidak dapat hidup. Hanya lumut tebal yang menyelimuti bebatuanlah satu-satunya jenis tumbuhan mampu bertahan dalam bioma terdingin di muka bumi ini.

Namun penemuan ahli ekologi dari Northern Arizona University menyingkap kenyataan baru yang akan mengubah sifat geografis dan iklim wilayah tersebut secara permanen.

Menggunakan citra satelit, para ahli ekologi yang dipimpin oleh Logan Berner melacak perubahan ekosistem tundra selama beberapa dekade. Hasilnya mengkonfirmasikan bahwa peningkatan suhu udara ternyata telah mengubah tanah Artik menjadi lebih hangat dan lebih bersahabat dengan tumbuh-tumbuhan.

Walau tampak alamiah, proses penghijauan Artik adalah hasil intervensi manusia melalui penggunaan bahan bakar fosil sejak era kejayaan kapal uap pada abad ke-19.

Perubahan vegetasi tundra tidak hanya berdampak pada satwa liar menggantungkan diri pada tumbuhan tertentu, tetapi juga pada penduduk asli wilayah tersebut yang sudah sekian lama mengandalkan ekosistem lokal untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka.

Tapi bukti seperti itu belumlah cukup untuk meyakinkan orang-orang hebat dalam lingkaran elite global seperti halnya Donald Trump yang sangat mencintai bisnis batu bara.

Berbagai retorika pun keluar dari mulut kalangan skeptis kendati harus membantah fakta ilmiah hasil penelitian yang dibiayainya sendiri.

Pada tulisan sebelumnya sudah pernah disinggung mengenai Fred Seitz, seorang tokoh utama penentang perubahan iklim yang tidak punya kompetensi di bidang ilmu kebumian dan lingkungan hidup.

Ternyata sang fisikawan yang pernah menjabat presiden ke-4 Universitas Rockefeller dari tahun 1968–1978 itu juga pernah mendebat ahli kesehatan dalam hal bahaya asap tembakau bagi kesehatan jantung dan paru-paru.

BBC berhasil merangkai kembali cerita di masa silam tersebut dan menyajikannya dengan apik dalam rubrik strories-nya.

Disebutkan bahwa ahli sejarah sains dari Universitas Harvard, Naomi Oreskes, mengungkap catatan masa lalu Fred Seitz. Ilmuan nuklir tersebut rupanya tidak hanya menyangkal fakta ilmiah perubahan iklim namun juga fakta ilmiah kesehatan mengenai bahaya tembakau bagi manusia.

Hal inilah yang membuat kita menjadi berpikir: "Jangan-jangan asap fosil juga bisa bikin orang kecanduan seperti halnya asap tembakau?"

Fakta bahwa orang yang sama mau bertengkar panjang lebar dalam dua kasus yang sama sekali bukan bidang keahliannya merupakan petunjuk bahwa sesuatu yang mencurigakan sedang terjadi. Seakan asap fosil dan tembakau bila terhirup dapat memicu kerancuan pola pikir bahkan bagi ilmuan hebat selevel Fred Seitz sekali pun.

Sayangnya, bobot ucapan orang berpengaruh dalam dunia ilmu pengetahuan tersebut terbukti mampu menciptakan pola disinformasi secara sistematis terhadap fakta ilmiah yang apa adanya.

Tiga dasawarsa sebelum industri energi fosil mencoba merongrong fakta ilmiah perubahan iklim, perusahaan tembakau telah lebih dulu menggunakan teknik yang sama untuk menentang para ahli kesehatan yang berhasil membuktikan hubungan antara kebiasan merokok dengan kanker paru-paru.

Ceritanya berawal pada bulan Desember 1953 ketika bos-bos perusahaan tembakau Amerika mengadakan rapat di Plaza Hotel, New York. Mereka bertemu untuk membahas potensi ancaman baru terhadap bisnis tembakau yang berasal dari temuan ahli bidang kesehatan.

Akhirnya diputuskanlah untuk membentuk "Tobacco Industry Research Committee". Tujuannya mempromosikan "keberadaan pandangan ilmiah" tandingan yang berpendapat bahwa tidak ada bukti bahwa merokok dapat menyebabkan kanker paru-paru.

Tapi seperti yang terjadi pada isu perubahan iklim, perusahaan tembakau pun ternyata hanya mampu menciptakan keraguan sementara. Debat kusir "pura-pura" ilmiah memang tak akan pernah mampu membentuk opini permanen dalam masyarakat.

Pada tahun 1997, industri tembakau terpaksa membayar 350 juta USD untuk menyelesaikan class action yang dibawa oleh Norma Broin. Dia adalah seorang pramugari yang menderita kanker paru-paru akibat menjadi perokok pasif dari asap tembakau penumpang pesawat.

Pengadilan membuktikan bahwa bos-bos tembakau telah memasarkan dan menjual produk mematikan mereka dengan penuh tipu daya. Hanya fokus pada keuntungan finansial tanpa memperhatikan aspek kemanusiaan dan aspek sosial.

Bos-bos tembakau itu pada akhirnya memang terbukti kalah dalam pertempuran ilmiah untuk menyembunyikan bahaya kebiasaan merokok. Tapi taktik disinformasi mereka terus hidup dan terus digunakan oleh kaum elite untuk melawan fakta ilmiah yang mengancam kelangsungan bisnisnya.

Distorsi dan manipulasi bukti ilmiah membuat masyarakat awam kebingunan, sinisme publik terhadap sains pun menjadi semakin tak terkendali. Dan kini kita bisa melihat sendiri bagaimana sulitnya menyakinkan masyarakat tentang bahaya virus korona ketika disinformasi tersebar bebas melalui media sosial. 

Ternyata memang benar jika bisnis asap fosil sama seperti bisnis asap tembakau, yaitu sama-sama bikin kecanduan dan sama-sama bikin riset tandingan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terserang Penyakit Mematikan dari Asap Tungku, Memasak dengan Kayu Bakar Masih Terus Merenggut Jutaan Nyawa Manusia

Biodiesel Ganja Rami (Hemp Fuel) dan Harapan (Palsu) Baru Spesies Cannabis Sativa

Baterai Dari Plastik Daur Ulang, Solusi Bagi Masalah Sampah Dunia