Perusahan Migas Raksasa Asal Belanda, SHELL, Bakal Bangun Ladang Angin Lepas Pantai Untuk PLTB Sebesar 759 MW


Ladang angin pantai, mungkin suatu saat akan menjadi istilah yang umum digunakan dalam bahasa Indonesia sebagai padanan dari istilah offshore wind farm dalam bahasa Inggris.

Mengutip CNBC, sebuah konsorsium antara Shell dan Eneco kabarnya bakal serius membangun ladang angin lepas pantai untuk difungsikan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) dengan kapasitas terpasang 759 MW.

Untuk dimaklumi, Eneco adalah sebuah perusahaan yang berkantor pusat di Rotterdam-Belanda, yang pemegang sahamnya adalah Mitsubishi Corporation dan Chubu Electric Power Co. Th.

Ternyata dua negara yang dulunya pernah berperang demi menjajah dan menduduki Indonesia, yaitu Belanda dan Jepang, kini bersatu dalam memperjuangkan energi terbarukan bagi masa depan dunia.

Usaha patungan antara perusahaan Belanda dan Jepang ini dinamai sebagai CrossWind dan kabarnya akan menggunakan 69 unit turbin produksi Siemens Gamesa yang 1 unitnya bisa memproduksi listrik hingga 11 MW. Lokasi pembangunannya berjarak tak kurang dari 18.5 km dari pesisir pantai Belanda, dan ditargetkan beroperasi pada tahun 2023.

Diakui oleh Belanda bahwa proyek ini masih kalah besar jika disandingkan dengan ladang angin lepas pantai terbesar di dunia - Hornsea One, di perairan Yorkshire, Inggris, yang memiliki kapasitas 1,2 gigawatt (GW). Tapi ladang angin Belanda ini ternyata tidak sekedar dipersiapkan sebagai sarana pembangkit listrik semata.

Dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu (29/7), Kementerian Urusan Ekonomi dan Kebijakan Iklim Belanda mengatakan CrossWind akan "menguji berbagai inovasi di bidang pengembangan teknologi penyimpanan energi atau baterai  agar mendukung masa depan PLTB di seluruh dunia." Pemerintah Belanda ingin meningkatkan kapasitas PLTB lepas pantai dalam beberapa tahun mendatang hingga menjadi 11 GW pada 2030.

Ketika bisnis hulu migas masih terpuruk, ternyata Shell malah mampu meraup pendapatan sebesar 638 juta USD pada kuartal kedua tahun 2020. Rupanya tak lain dan tak bukan adalah buah dari investasinya di sektor energi terbarukan. Sebuah pertanda baik bagi dunia saat pandemi Covid-19 belum juga mereda. Ternyata bisnis energi terbarukan mampu menyelamatkan ekonomi perusahaan migas raksasa Belanda.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terserang Penyakit Mematikan dari Asap Tungku, Memasak dengan Kayu Bakar Masih Terus Merenggut Jutaan Nyawa Manusia

Biodiesel Ganja Rami (Hemp Fuel) dan Harapan (Palsu) Baru Spesies Cannabis Sativa

Baterai Dari Plastik Daur Ulang, Solusi Bagi Masalah Sampah Dunia