Menerka Posisi Energi Terbarukan dalam 5 tahun ke depan

Gambar: www.mynewsdesk.com

Belum lama rasanya kita sering mendengar ulasan pakar energi yang menyatakan bahwa untuk meningkatkan kapasitas terpasang pembangkit dari energi terbarukan butuh biaya tinggi sehingga subsidi pemerintah dibutuhkan dalam jumlah sangat besar agar investasi menjadi layak.

Tapi hal tersebut adalah cerita masa silam yang sudah tak berlaku lagi pada zaman kekinian. Berikut ulasan seorang senior energy and material specialist, Matthew DiLallo, untuk The Motley Fool, sebuah perusahaan penasihat keuangan dan investasi.

Setelah bertahun-tahun dikembangkan barulah biaya investasi energi terbarukan turun secara dramatis dalam beberapa tahun terakhir ini. Kini sebagian besar proyek energi terbarukan tidak memerlukan lagi insentif dari pemerintah untuk dapat bertahan hidup.

Tren itu mungkin akan lebih jelas kelihatan selama lima tahun ke depan.

Kilas Balik Walau Cuma Sekilas Saja

Sebelum membayangkan bagaimana nasib energi terbarukan di masa depan maka penting untuk melihat sekilas ke masa lalu agar pembahasan ini dapat diterima dari perspektif yang sama.

Sekitar lima tahun yang lalu, biaya pemasangan panel surya adalah $ 4 per watt. Nilai investasi yang sangat kemahalan bila mau bersaing dengan energi fosil tanpa subsidi pemerintah.

Namun tak ternyana, kemajuan teknologi berhasil menurunkan biaya konstruksi sehingga tenaga surya dapat berdiri sendiri tanpa subsidi pada tahun ini. Menurut Sachin Shah, CEO raksasa energi terbarukan Brookfield Renewable, panel surya adalah yang termurah di antara sumber daya konvensional dengan biaya terendah secara global, karena saat ini harganya kurang dari $ 1 per watt untuk memasang kapasitas surya baru.

Hal yang sama juga terjadi pada Pembangkit Listrik Tenaga Bayu, kini membangun pembangkit bertenaga angin yang baru ternyata bisa lebih murah daripada membangun Pembangkit Listrik Tenaga Gas.

Dimana Posisi Energi Terbarukan di 2025?

Perusahaan energi terbarukan sepenuhnya berharap biaya tersebut akan terus turun selama lima tahun ke depan. Menurut perkiraan, pada tahun 2025, membangun PLTB di puncak gunung atau lembah akan menjadi bentuk pembangkit listrik termurah bahkan setelah berbagai macam insentif dihapuskan. Sementara itu, tenaga surya akan turun dari level saat ini hingga menjadi sumber listrik termurah kedua.

Biaya penyimpanan baterai pun terus menurun. Jika pada satu dekade lalu, harganya $ 71 hingga $ 81 per megawatt-hour (MWh), saat ini berada pada kisaran antara $ 8 dan $ 14 per MWh. Pada 2022, industri energi terbarukan mengatakan harganya dapat turun menjadi $ 4 menjadi $ 9 per MWh.

Untuk itulah mengapa kemudian produsen energi terbarukan terkemuka NextEra Energy mengatakan bahwa dalam setengah dekade lagi tenaga angin dan matahari yang di dukung dengan teknologi baterai murah akan lebih ekonomis untuk dibangun daripada PLTG pada umumnya. 

Diperhitungkan, biaya untuk membangun PLTB berkisar antara $ 20 hingga $ 30 per MWh, sedangkan PLTS bernilai antara $ 30- $ 40 per MWh, yang menempatkannya pada posisi yang sama dengan biaya pembangkit dengan gas alam (PLTG).

Kisah Baterai Tesla 

Cerita tentang perkembangan teknologi baterai bukanlah sebuah kisah pengandaian atau khayalan lagi. Di California Selatan, baterai Powerwall dari Tesla telah terpasang pada ratusan rumah yang berfungsi layaknya genset ketika energi surya tak lagi bersinar. 

Baru-baru ini di Hawaii, yang laju konsumsi listriknya sedang meningkat pesat, Powerwall disebar untuk mengendalikan lebih dari ribuan ruang kelas di Hawaii, tanpa meningkatkan biaya rekening listrik bulanan yang harus ditanggung oleh sekolah umum.

Perubahan biaya investasi yang dramatis ini seharusnya akan mendorong lonjakan investasi energi terbarukan yang signifikan di tahun-tahun mendatang. Namun tetap dengan satu syarat utama yaitu terwujudnya dukungan teknologi penyimpanan daya yang murah dan andal. Karena energi angin dan surya tidak tersedia 24/7 selayaknya kebutuhan masyakarat modern akan energi. 

Indonesia secara khusus sebenarnya sangat diuntungkan dengan perubahan kondisi pasar energi global saat ini. Keberadaan potensi energi angin dan surya adalah sebuah keniscayaan bagi wilayah dengan kondisi geografis yang diapit oleh dua benua dan dua samudera. Lebih beruntung lagi karena punya potensi panas bumi yang lebih dari memadai.

Lantas dimanakah posisi energi terbarukan kita pada tahun 2025?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terserang Penyakit Mematikan dari Asap Tungku, Memasak dengan Kayu Bakar Masih Terus Merenggut Jutaan Nyawa Manusia

Biodiesel Ganja Rami (Hemp Fuel) dan Harapan (Palsu) Baru Spesies Cannabis Sativa

Baterai Dari Plastik Daur Ulang, Solusi Bagi Masalah Sampah Dunia