Drone Kapal Selam Mempermudah Perbaikan Kabel Bawah Laut

Drone Kapal Selam atau AUV (Autonomous Underwater Vehicles) / Foto: Rovco via bbc.com

Pembangunan kincir angin Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) sekarang lagi gencar-gencarnya dibangun di lepas pantai. Tentunya untuk menghubungkan pembangkit listrik di tengah laut pasti butuh kabel bawah laut yang panjangnya bisa mencapai puluhan kilometer.

Sampai saat ini umumnya survei kelautan (marine survey) dilakukan oleh tim yang berangkat dengan perahu, merekam dan mengumpulkan data baru kemudian dianalisis setelah tim tiba mendarat kembali. 

Terkadang survei dapat hanya melibatkan kapal yang relatif kecil dengan dua anggota awak, yaitu seorang surveyor dan nakhodanya. Tetapi ketika harus melakukan survei di laut dalam maka kapal besar yang jumlah awaknya hingga lusinan orang harus digunakan, tentu biaya pun jadi membengkak, bisa-bisa menembus angka Rp. 1,5 milyar per hari.

Peralatan sensor berbeda-beda sesuai dengan peruntukannya. Kadang-kadang bisa berupa deret sonar yang ditarik di belakang kapal, untuk pekerjaan khusus mungkin menggunakan kendaraan tak berawak layaknya drone kapal selam di bawah air yang dikontrol oleh surveyor di permukaan.

Rovco sedang mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sehingga drone kapal selam itu akan berfungsi layaknya robot bawah air. Membuat AUV dapat melakukan pekerjaan survei tanpa perlu dikontrol terus menerus, dan kemudian mengirimkan datanya kembali ke surveyor yang stand by di kantor.

Bukan cuma AI, teknologi sistem visual bawah laut pun ikut dikembangkan supaya AUV dapat menggambarkan peta bawah permukaan secara rinci. Beberapa pekerjaan seperti membongkar infrastruktur minyak dan gas di bawah permukaan laut, maka informasi tentang ukuran dan tata telak infrastruktur harus diketahui dengan tepat.

Drone Kapal Selam atau AUV (Autonomous Underwater Vehicles) / Foto: Modus via bbc.com

Tak hanya Rovco yang sedang mencoba mengembangkan teknologi AI dan sistem visual untuk drone kapal selam, Perusahan dalam industri sejenis seperti Modus dan Spektrum Offshore juga tak mau ketinggalan.

Menurut Søren Lassen, kepala penelitian angin lepas pantai di konsultan Wood Mackenzie, akan ada hadiah menarik bagi perusahaan yang dapat membuat robot bawah air cerdas dapat bekerja. Saat ini hanya enam negara yang memiliki industri pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai skala besar. Dalam waktu 10 tahun, dia memperkirakan 20 negara akan ikut berinvestasi di sektor energi terbarukan satu ini.

Tahun 2019 baru sekitar 29 GW kapasitas turbin angin lepas pantai yang terhubung ke jaringan listrik komersial di seluruh dunia. Dua dekade kedepan Wood Mackenzie memperkirakan angka itu akan naik lebih dari enam kali lipat mencapai 180 GW.

Jasa layanan surveyor kelautan tentu akan sangat dibutuhkan selama proses pembangunan ribuan turbin angin dan perawatan ribuan kilometer kabel bawah laut yang menghubungkan ladang angin tersebut dengan jaringan listrik komersial.

Pada tahun 2029 nanti harapannya adalah sebagian besar pekerjaan di laut sudah mampu dilakukan oleh sistem otonom yang memiliki teknologi kecerdasan buatan dan sistem visual yang lebih canggih, dengan demikian para pekerja lapangan tak lagi harus bertaruh nyawa ketika harus melaksanakan survei saat badai menerpa.

Hanya robot bawah lautlah yang akan menyelami dasar lautan dibawah ganasnya ombak di musim badai, sedangkan para surveyor cukup duduk manis dengan kopi hangatnya dalam bilik kantor. Demikian sebagaimana disadur dari bbc.com 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terserang Penyakit Mematikan dari Asap Tungku, Memasak dengan Kayu Bakar Masih Terus Merenggut Jutaan Nyawa Manusia

Biodiesel Ganja Rami (Hemp Fuel) dan Harapan (Palsu) Baru Spesies Cannabis Sativa

Baterai Dari Plastik Daur Ulang, Solusi Bagi Masalah Sampah Dunia