Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2020

Ironi Ketergantungan Pada Energy Surya dan Angin dalam skenario “German Energiewende”

Gambar
Ini adalah tulisan ketiga yang berkenaan dengan kenyataan pahit dalam pengembangan Renewable Energy. Pembahasan kali ini berangkat dari ulasan JonathanTennebaum tentang pengalaman Jerman selaku negara pertama di dunia yang sangat radikal menggenjot pembangunan instalasi pemanfaatan energi terbarukan. Kebijakan transisi energi di Jerman, yang terkenal dengan”German Energiewende” membuat negara besar di benua eropa ini berhasil meningkatkan proporsi sumbangsih energi surya dan angin mencapai angka 35% terhadap total kebutuhan energi listrik nasional negara Jerman. Image by  Clker-Free-Vector-Images  from  Pixabay   Sangat drastis dan kontras jika dibandingkan dengan kondisi pada tahun 2015, dimana kontribusi energi surya dan angin hanya berada pada kisaran dibawah 5% dalam pemenuhan energi listrik dunia. Pencapaian yang tidak mudah, karena untuk itu Jerman harus membangun: 30.000 unit turbin Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) dengan kapasitas terpasangnya

Kenyataan Pahit Renewable Energy: Rupanya Internet pun Merusak Lingkungan

Gambar
Dalam tulisan sebelumnya sudah pernah dikemukaan bahwa energi terbarukan yang diharapkan menjadi andalan dunia dalam mengurangi emisi karbon semestinya energi surya dan energi angin. Namun keduanya berhadapan dengan kenyataan pahit yaitu: tenaga surya dan angin sulit menyesuaikan diri dengan kebutuhan ekonomi dimana energi itu akan dipasarkan. Energi surya dan angin adalah jenis energi yang tidak konsisten, dan hanya diperoleh pada waktu dan tempat tertentu.  Sedangkan ekonomi dunia bergerak tanpa henti 24 jam sepanjang 7 hari dalam satu pekannya. Disisi lain rupanya Internet yang menjadi simbol Revolusi Digital pun menjadi “musuh” bagi Kelestarian Lingkungan, karena ikut menyumbang emisi karbon setidaknya sebesar 1.9 GigaTon atau setara 3.2 percent dari total global emisi karbon dunia. Mengapa demikian? Jawabannya ada pada kebutuhan Energi Listrik. Energi listrik adalah "biang keroknya" Revolusi Digital, tanpa Listrik yang stabil dan andal maka tak

Tekad Kuat Google dan Apple pada Renewable Energy

Gambar
Selama pandemi virus corona SARS-Cov-2 (Covid-19), cuci tangan selama 40 detik menjadi anjuran World Health Organization (WHO). Tapi dalam prakteknya cara cuci tangan yang benar ini belum populer karena sebagian besar orang masih menganggap mencuci tangan bukan sebagai pekerjaan serius. Image by  Myriam Zilles  from  Pixabay   Cuci tangan yang benar itu tidak cukup hanya dengan melalukan air pada telapak tangan dalam waktu singkat. Tapi harus disertai usapan air sabun secara merata hingga seluruh lekuk telapak tangan. Image by  Pabitra Kaity  from  Pixabay Sepatutnya jika dilakukan sesuai petunjuk akan membutuhkan waktu setidaknya selama 40 detik. Sejak bulan maret lalu, kampanye cuci tangan WHO sudah di bantu oleh Google melalui di aplikasi Google Assistant. Cukup dengan mengatakan “Hai Google, bantu saya cuci tangan”, maka Smart Display, Smart Speaker atau Hand Phone akan memandu kita mencuci tangan dengan benar. Kemudian juga Smart Watch Ap

Mengapa Minyak Bumi Yang Baru Saja Di Bor Tidak Dapat Langsung Digunakan?

Gambar
Image by  Anita starzycka  from  Pixabay   Dapatkah kita langsung memanfaatkan minyak bumi yang baru saja di bor? Image by  Robert Balog  from  Pixabay   Boleh jadi hal tersebut pernah terpikirkan oleh sebagian dari kita, karena membayangkan bila minyak yang masih segar dari bawah perut bumi itu merupakan campuran minyak tanah, bensin, dan minyak solar. Alat Distilasi Minyak Bumi GOKLuLe / CC BY-SA (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0) Adapun secara ilmu kimia, minyak bumi sebenarnya merupakan campuran unsur hidrogen (H 2 ) dan karbon (C) berbentuk senyawa cair yang mudah menguap, namun ketika terangkat ke permukaan senyawa ini masih bercampur juga dengan elemen lain yang berasal dari pelbagai struktur molekul kompleks di bawah perut bumi. Contohnya: Nitrogen (N 2 ), Belerang (S), dan Oksigen (O 2 ). Ketika unsur penyerta seperti Nitrogen (N 2 ), Belerang (S), dan Oksigen (O 2 ) berhasil dibuang maka tinggallah senyawa hidrokarbon saja dala

Kenyataan Pahit Energi Terbarukan (Renewable Energy) Yang Jarang Terungkap

Gambar
Energi adalah ukuran dari kesanggupan untuk melakukan suatu usaha. Sedangkan bila disebut energi terbarukan maka yang dimaksud adalah energi yang bersumber dari "proses alamiah yang berkelanjutan", seperti: energi matahari, tenaga angin, arus air, biomassa, dan panas bumi. Untuk membandingkan potensi ketersediaan energi dari sumber yang berbeda, satuan ‎seperti: kalori‎‎, ‎BTU‎, ‎MW, atau Barrel Oil Equivalent adalah biasanya digunakan sebagai unit energi secara universal. Contohnya ketika membandingkan potensi energi terbarukan di Indonesia, data Kementerian Energidan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 2016 menunjukkan potensi energi surya di Indonesia diperkirakan 207.898 Megawatt (MW), paling besar jika dibandingkan dengan energi terbarukan lainnya, antara lain air 75.091 MW, angin 60.647MW dan panas bumi 29.544 MW. Disisi lain, total kapasitas terpasang pembangkit di Indonesia ( posisi September 2019 ) sebesar 58.519 MW, atau hanya sekitar 28% potensi en