Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Pemanfaatan Langsung Panas Bumi dalam UU Cipta Kerja, Penguatan Peran Pemerintah Pusat

Gambar
Gambar: epa.gov Pemanfaatan Langsung Sumber Daya Alam panas bumi, merupakan proses pemanfaatan air/uap panas alamiah yang berada di bawah permukaan bumi secara langsung tanpa melalui tahapan konversi energi. Penggunaan dengan metode yang diistilahkan sebagai Geothermal Direct Use ini umum dipakai untuk menghangatkan ruangan/bangunan di banyak negara yang memiliki iklim empat musim seperti Jepang dan negara-negara nordik di Eropa. Pemanfaatan Langsung panas bumi juga bisa diaplikasikan pada budidaya tanaman rumah kaca, pengeringan bawang, pembibitan jamur merang, pembenihan ikan, pasteurisasi produk susu segar, dan berbagai proses lain yang membutuhkan energi panas. Adapun klaster panas bumi dalam UU Cipta Kerja (Ombinus Law) telah mengubah 34 Pasal dari 88 Pasal dalam UU 21/2014 tentang Panas Bumi. Meskipun berdasarkan kajian ReforMiner Institute , perubahan dalam klaster panas bumi tersebut belum mampu menguraikan permasalahan utama pengusahaan panas bumi. Kewenangan pemeri

Akankah PLTU Batubara di Suralaya Menjadi PLTS Orde Gigawatt?

Gambar
  Gambar: wikimedia.org Biaya untuk membangun baru pembangkit listrik bertenaga surya semakin murah, bahkan lebih murah bila dibandingkan dengan membangun baru PLTU batubara. Hal tersebut dinyatakan oleh Badan Energi Internasional (IEA), sehingga diprediksikan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) bakal menjadi primadona di masa depan . Maka wajarlah apabila Kementerian ESDM mulai mempertimbangkan untuk mengganti PLTU Suralaya, di Cilegon, Provinsi Banten, dengan instalasi PLTS Terpusat yang mampu mengimbangi produksi listrik pembangkit tersebut saat ini. Tentunya butuh ribuan panel yang harus digelar ibarat tikar di atas ladang surya masa depan di Suralaya, supaya mampu menghasilkan listrik dengan kapasitas 3400 MW selama 24 jam setiap harinya. Diantara pertimbangan Pemerintah untuk menutup PLTU Suralaya adalah karena pembangkit itu sudah sangat tua sehingga efisiensi semakin turun. Seperti yang diwartakan oleh The Jakarta Post pada 30 November silam, Dirjen EBTKE Kementer

Apa Pun Yang Kita Lakukan, Ternyata Pemanasan Global Hampir Tidak Bisa Lagi Dihentikan

Gambar
  Gambar: naturfreund_pics/Pixabay Andaikan saja seluruh umat manusia mampu berhenti mengeluarkan emisi gas rumah kaca pada hari ini, ternyata fenomena pemanasan global tetap akan terus berlanjut hingga beberapa abad yang akan datang yang menyebabkan permukaan laut akan naik beberapa meter. Hal tersebut diungkapkan oleh para peneliti yang terlibat dalam sebuah studi pemodelan iklim yang mencoba mengembangkan model kontroversial seperti yang diberitakan oleh The Jakarta Post pada Jum’at yang baru lampau. Senada dengan media internasional berbasis nasional tersebut ,The Daily Mail nyatanya juga mewartakan topik yang serupa dalam pekan yang sama. Namun kiranya hal ini bukanlah sesuatu yang baru apabila kita menengok kembali tulisan Jacqueline Sussman yang dipublikasikan oleh Biodiversity for a Livable Climate (B4LC), yang mana B4LC ini merupakan sebuah organisasi yang memiliki slogan: “memulihkan ekosistem untuk membalikkan proses pemanasan global”. Panel surya di atas atap rumah.

Akibat Proses Transisi Energi, Industri Batubara Indonesia Semestinya Tak Lagi Layak Untuk ‘Mati-matian’ Dipertahankan

Gambar
  Gambar: Pixabay " ...dua hal besar dari batubara yang akan membebani pemerintah di masa depan, yaitu: technology lock-in dan stranded asset " Kebijakan transisi batubara nasional harus segera terbentuk agar dampak ‘kejutan’ bagi ekonomi dan sosial di masa mendatang dapat ditekan seminimal mungkin. Ketika membicarakan energi untuk pembangkit listrik di kawasan Asia Tenggara maka topik ini sering diasosiasikan dengan batu bara meskipun potensi energi terbarukan di kawasan ini sangatlah besar. Indonesia memiliki 3,7% dari total cadangan terbukti batubara dunia, terdiri dari ±24,7 miliar ton batubara dengan kalori menengah dan ±15,2 miliar ton dari jenis kalori rendah. Selama sepuluh tahun terakhir, lebih dari 80% produksi batubara nasional ternyata diekspor ke China, India, Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan. Apalagi kalau bukan untuk memasok kebutuhan PLTU di negara-negara tersebut. Namun demikian ternyata pasar ekspor komoditi ini kini punya kerentanan yang tinggi, se

Energi Simalakama, Gambaran Kebijakan Energi Kita

Gambar
  Gambar: Pixabay Penyebab utama terjadinya perlambatan pencapaikan target transisi energi dari fosil ke energi terbarukan di Indonesia adalah ekosistem kebijakan yang tumpang tindih dan tidak konsisten alias berubah-ubah sesuka kehendak pemegang kebijakan. Dalam struktur birokrasi energi yang berlaku sejak awal era reformasi, kedudukan Menteri ESDM, Dirut PT PLN, serta Gubernur dan/atau Bupati/Walikota (sebelum kewenangan Kab/Kota di bidang ESDM dicabut) adalah saling tumpang tindih sehingga kebijakan masing-masing pemangku kepentingan tersebut sulit untuk dikonsolidasi. Untuk itu kemudian Pemerintah dan DPR terus mencoba melakukan penyederhanaan regulasi, diantarnya yaitu melalui pembahasan RUU EBT yang masih dalam tahap drafting oleh Badan Keahlian DPR RI. Kompleksitas kebijakan energi Indonesia memang bukan isapan jempol, bahkan Inside Indonesia menerbitkan edisi khusus yang bertajuk Indonesian’s Energy Dilemma pada Oktober tahun ini. Sejak 2017 sudah diumumkan bahwa ta

Perjuangan Energi Surya di Indonesia Yang Selalu Tersandung Kaki ‘Batu Bara’ Sendiri

Gambar
  Gambar: Suhendri via Channel News Asia Untuk pertama kalinya, renovasi besar Masjid Istiqlal baru-baru ini menggunakan konsep ‘green building’ untuk kategori rumah ibadah di Indonesia. Saat ini telah terpasang panel surya atap (rooftop) sebanyak 504 unit yang mana mampu menghasilkan listrik setara dengan 150 kWp. Berita tersebut sempat menarik perhatian beberapa media nasional pada awal September silam. Diantaranya adalah Tempo , Kontan , Detik , dan CNN Indonesia yang terkesan saling berlomba untuk menampilkan foto terbaik dari suasana instalasi PLTS Rooftop di Masjid terbesar se-Asia Tenggara tersebut. Namun bagi media internasional, berita tersebut ternyata lebih dari sekedar kabar ringan karena secara implisit tergambar bahwa urusan energi terbarukan dan isu perubahan iklim mulai mendapatkan perhatian serius dari para pemangku kebijakan di Indonesia. Kesan tersebut dapat disimpulkan dari tulisan Kiki Siregar yang ditayangkan oleh Channel News Asia ternyata dipublikasikan

Sun Cable Bangun PLTS 10 GW di Australia untuk Melistriki Singapura, Proyek EBT Paling Ambisius di Asia-Pasifik

Gambar
Gambar: Solar Farm via Science Alert   Sebuah proyek energi terbarukan yang disebut-sebut sebagai pembangkit tenaga surya terbesar di dunia akan berada di Australia. Seperti diwartakan oleh kantor berita ABC , Newcastle Waters Station yang terletak di Northern Territory Australia telah diusulkan sebagai lokasi pembangunan pembangkit tenaga surya terbesar di dunia berkapasitas sebesar 10 GW. Kontraktor proyek tersebut, Sun Cable, mengatakan kepada ABC Rural bahwa PLTS tersebut membutuhkan lahan sebesar 12.000 hektar atau setara dengan 120 km persegi. Pembangkit ini nantinya akan memasok energi listrik ke Singapura melalui kabel bawah laut yang membentang di bawah teritorial laut Indonesia. Adapun nilai proyek ini sendiri mencapai angka 20 miliar AUD yang mana pendanaannya didukung oleh dua orang miliarder Australia yaitu Mike Cannon-Brookes dan Andrew Forrest . Pemerintah Australia telah menerima proposal proyek ini dan menetapkannya sebagai proyek besar dari Pemerintah Federal.

Terobosan Green Energy dari Pertamina untuk Ketahanan Energi Nasional dan Mengurangi Impor BBM

Gambar
  Sejak di restrukturisasi, Pertamina mulai fokus pada bisnis intinya yaitu bisnis energi. Tampak bahwa peluang kemitraan strategis Pertamina kini sudah semakin besar, menyongsong fenomena megatren dalam industri energi global, yaitu: transisi dari bahan bakar fosil ke energi baru terbarukan yang lebih bersih dan ramah lingkungan. Untuk dimaklumi bahwa tulisan berikut ini pada dasarnya adalah resensi dari artikel yang pernah terbit pada laman Jakarta Post . Perusahaan energi plat merah Indonesia, Pertamina, menyikapi era transisi energi ini dengan melakukan transformasi bisnis. Didorong oleh fenomena pemanasan global akibat efek rumah kaca dan peningkatan kadar CO2 di udara, transisi ke “green energy” saat ini terjadi dalam skala global. Selain itu transisi energi juga diakibatkan oleh faktor alamiah yaitu menipisnya cadangan migas di negara-negara tertentu seperti halnya Indonesia. Sebagai perusahaan migas nasional (NOC), Pertamina berupaya keras untuk mewujudkan ketahanan ene

Lawatan PM Yoshihide Suga ke Vietnam dan Indonesia, Pertanda Baik Bagi Investasi di Sektor Energi Terbarukan ASEAN

Gambar
Panorama PLTS Terapung. Gambar: JICA Perdana Menteri Jepang, Yoshihide Suga, memilih untuk melawat Vietnam dan Indonesia terlebih dahulu ketimbang Amerika Serikat ataupun Korea Selatan. Selain membahas urusan pertahanan dan keamanan negara, kunjungan tersebut tentu juga akan berdampak positif pada pengembangan investasi energi terbarukan di ASEAN, khususnya pada kedua negara tersebut. Yoshihide Suga baru saja dilantik menjadi PM Jepang pada bulan yang lalu. Seperti pendahulunya, Shinzo Abe, Asia Tenggara menjadi destinasi perjalanan luar negeri resmi pertamanya . Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan hubungan pertahanan dan keamanan menyusul kekhawatiran tentang meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan. Saat ini Vietnam merupakan Ketua daripada ASEAN, sedangkan Indonesia masih menempati posisi sebagai kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Konsekuensinya, mempererat hubungan dengan kedua negara dapat menjadi jalan tengah bagi ekonomi Jepang yang sedang memindahkan inv

Energi Bersih Dapat Membantu Pemulihan Ekonomi Asia Tenggara Pasca Pandemi COVID-19

Gambar
  Pekerja PLTB di Thailand. Gambar: ADB via wri.org Resesi ekonomi selama pandemi acap kali menjadi tren pembahasan di berbagai media. Dan banyak di antara pemerhati ekonomi menyarankan agar negara-negara yang menderita resesi segera memanfaatkan energi baru terbarukan sebagai solusi bagi pemulihan ekonomi. Teranyar adalah ulasan dari Marlon Joseph Apanada yang dipublikasikan oleh World Resources Institute . Tulisan tersebut menyoroti tentang pemulihan kondisi ekonomi negara-negara ASEAN pasca pandemi. Sebelum di hantam oleh virus corona, Asia Tenggara merupakan salah satu kekuatan ekonomi regional yang diperhitungkan secara internasional. Sektor manufaktur, industri, dan jasa serta ekonomi kreatif berkembang di seluruh negara ASEAN dalam beberapa dekade terakhir. Permintaan energi pun tumbuh hingga 6% per tahun dan merupakan salah satu wilayah yang memiliki pertumbuhan konsumsi energi tertinggi di dunia. Namun negara-negara Asia Tenggara sebagian besar masih terus menggunakan e