Postingan

Menampilkan postingan dari 2013

TANTANGAN DAN HARAPAN PASCA PENGESAHAN RPP MIGAS ACEH

بِسمِ اللَّهِ الرَّحمٰنِ الرَّحيمِ Zona 12 – 200 mil laut pantai timur Aceh merupakan zona prospek Minyak dan Gas Bumi ditinjau dari tatanan tektonik Pulau Sumatera yang merupakan Busur Belakang (Back Arc) Tabel 1. Profil Blok di zona 12 – 200 mil laut Aceh akhir tahun 2013 STATUS BLOK OPERATOR PRODUKSI North Sumatera Offshore Exxon Mobil EKSPLORASI Andaman III West Glagah Kambuna Krueng Mane Lhokseumawe Seruway East Seruway Talisman Petronas Carigali ENI Krueng Mane Zaratex Transworld Seruway Kris Energy Joint Study North Andaman Andaman II Premier Oil Konsorsium Premier Oil dan Kris Energy Pengajuan Joint Study South East Andaman South Andaman Andaman I Konsorsium Premier Oil dan Kris Energy Konsorsium Premier Oil dan Kris Energy Pearl Energy Tabel 2. Profil Blok di zona <12 mil laut Aceh akhir tahun 2013 STATUS BLOK OPERATOR

INDUSTRI PUPUK ACEH BERHARAP DARI BLOK A

بِسمِ اللَّهِ الرَّحمٰنِ الرَّحيمِ Perkembangan sektor industri di Aceh sangat dipengaruhi oleh penemuan cadangan minyak dan gas bumi pada akhir era 1960-an di Lapangan Arun, Lhokseumawe. Kawasan Lhokseumawe dan Aceh Utara  pada saat itu dengan cepat bertranformasi menjadi zona industri, ditandai dengan berdirinya: }   PT.  Arun Natural Gas Liquefaction, Arun NGL (1974), }   PT.  Aceh Asean Fertilizer, AAF (1981), }   PT.  Pupuk Iskandar Muda, PIM (1982), dan }   PT.  Kertas Kraft Aceh, KKA (1985). Seiring dengan menipisnya cadangan gas bumi dari WKP Migas yang selama ini menyediakan bahan baku gas alam ke industri-industri tersebut, muncul semangat revitalisasi Kawasan Industri Lhokseumawe (KIL) dari masyarakat yang juga mendapat dukungan dari Pemerintah Pusat dengan Peraturan Presiden No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, dimana Pemerintah telah menetapkan Kawasan Industri Lhokseumawe (KIL) sebagai kawasan strategis nasional sebagai pendorong p

Sumber Daya Migas, Industrialisasi dan Perekonomian Aceh

Gambar
بِسمِ اللَّهِ الرَّحمٰنِ الرَّحيمِ Sumber Daya Migas, Industrialisasi dan Perekonomian Aceh (disampaikan dalam seminar Revitalisasi  Kawasan Industri Lhokseumawe 8-9 Nopember 2013) }   Sektor industri merupakan katalisator pembangunan ekonomi pada setiap negara di dunia. }   Perkembangan sektor industri di Aceh sangat dipengaruhi oleh penemuan cadangan minyak dan gas bumi di akhir era 1960-an. }   Kawasan Lhokseumawe dan Aceh Utara  dengan cepat bertranformasi menjadi zona industri, ditandai dengan berdirinya: }   PT.  Arun Natural Gas Liquefaction (1974), }   PT.  Aceh Asean Fertilizer (1981), }   PT.  Pupuk Iskandar Muda(1982), dan }   PT.  Kertas Kraft Aceh (1985).                 [Sumber: Dawood,D (1991), Perkembangan Pembangunan Wilayah di Daerah Istimewa Aceh ] Peraturan Presiden No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Pemerintah telah menetapkan Kawasan Industri Lhokseumawe sebagai kawasan strategis nasional sebagai pendorong pen

The Impact of extreme Weather events on Budget Balances and ImplicatIons for fiscal polIcy

بِسمِ اللَّهِ الرَّحمٰنِ الرَّحيمِ DISCUSSION  of  A WORKING PAPER The ImpacT of exTreme WeaTher evenTs on BudgeT Balances and ImplIcaTIons for fIscal polIcy

Ketidakpastian Hukum dan Dampaknya Bagi Pengelolaan Migas

Gambar
بِسمِ اللَّهِ الرَّحمٰنِ الرَّحيمِ Kepastian hukum merupakan syarat utama dalam semua kegiatan bisnis, tak terkecuali dalam bisnis migas. Dalam sistem PSC di Indonesia, kepastian hukum akan sangat berdampak pada bagian pemerintah dari hasil pengelolaan migas. Contoh kasus yang paling anyar, adalah menipisnya bagian pemerintah akibat dari berlarut-larutnya penyelesaian kelanjutan pengelolaan Blok Pase di Provinsi Aceh dimulai sejak akhir tahun 2012. PSC Blok Pase diperoleh oleh Mobil Pase Inc. ( perusahan minyak AS ) pada tahun 1981 selama 30 tahun, kemudian pada tahun 1983 perusahaan tersebut menemukan cadangan Hidrokarbon yang komersial untuk diproduksi. Diperkirakan Blok Pase memiliki Original Gas in Place (OGIP) 498 BCF dengan cadangan terbukti hingga saat ini adalah 183 BCF.  Sejarah Pengelolaan Blok Pase ExxonMobil sebagai perusahaan hasil merger Exxon dan Mobil Oil menyerahkan hak pengelolaan Blok Pase kepada Triangle Pase Inc. (Triangle Energy ) pada tahun 2009 sete

SEJARAH PENGELOLAAN MIGAS INDONESIA (Bagian Kedua)

بِسمِ اللَّهِ الرَّحمٰنِ الرَّحيمِ Sering dikatakan bahwa konsep PSC Indonesia terinspirasi dari tradisi penggarapan sawah di nusantara. Untuk itu maka tulisan saya kali ini merupakan imajinasi pribadi dalam usaha mereka-reka bagaimana konsep sederhana PSC Indonesia jika harus disesuaikan dengan tradisi tersebut. Sebagai contoh, salah satu sistem “mawah” yang dipraktekkan di Aceh, khususnya di daerah Kemukiman Lubuk, Kab. Aceh Besar; dimana Pemilik Sawah dan Petani memiliki kesepakatan sbb: Setiap hasil panen dibagi 3 dengan ketentuan: 1/3 bagi Pemilik Sawah, 1/3 untuk mengganti biaya produksi, dan 1/3 bagi Petani. Jika dianalogikan dengan sistem PSC maka Pemilik Sawah adalah Pemerintah, dan Petani adalah Kontraktor Migas baik nasional maupun asing. Agar lebih detil lagi,maka sawah yang akan digarapkan kita ibaratkan sebagai sawah yang waqafkan bagi mesjid Klik disini untuk keterangan tentangwaqaf , sehingga berfungsilah Imam Mesjid sebagai Pemerintah, dan Pengusaha sebagai

SEJARAH PENGELOLAAN MIGAS INDONESIA (Bagian Pertama)

بِسمِ اللَّهِ الرَّحمٰنِ الرَّحيمِ Konon, m inyak bumi mulai dikenal oleh bangsa Indonesia sejak zaman kesultanan ditandai dengan penggunaan minyak mentah untuk membakar kapal-kapal Portugis selama perang Aceh-Portugis oleh armada Kesultanan Aceh sebelum modernisasi persenjataan di angkatan lautKesultanan tersebut .  Perkembangan migas secara modern di Indonesia dimulai saat dilakukan pengeboran pertama pada tahun 1871, yaitu di desa Maja, Majalengka, Jawa Barat, oleh pengusaha belanda bernama Jan Reerink . Sedangkan pengelolaan migas dengan sistem PSC sendiri baru dikenal sejak tahun 1965, dimana sebelumnya SDA miigas Indonesia dikelola dengan sistem konsesi (1899-1960) selama dikelola oleh Pemerintah Kolonial Belanda dan P.T. Minyak Nasional Rakyat selama era 1945-1960; sedangkan di era 1961-1964 berlaku kontrak karya pengelolaan migas dimana beberapa perusahan yang sempat beroperasi di Indonesia saat itu adalah P.N. Permina , P.N. Pertamin dan Perusahaan Tambang Miny